Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Persahabatan - Teror Beruang | Alfred Pandie

teror beruang

Aku Icha, ketiga temangu Ria, Lia dan Sinta, kami adalah 4 sekawan. sekarang kami tersesat di hutan belantara. Ketika study tour akhir kelas 3, harus melakukan camping di hutan yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara kami, semua sesuai rencana, namun di sinilah kisah di mulai.

*MALAM SEBELUM TEROR*

(Ceritanya lagi tidur di dalam camp bro: -p)

Aku, Ria, lya dan juga Sinta, sedang tertidur lelap. ketika sebuah suara dari dalam hutan membangun kami, seperti anak kecil menangis. “masa ia sih? hutan ini ada orang buang anak?” pikir ku. kami saling melirik ingin tahu apa yang berada di sana, setelah berunding akhirnya kami diam-diam pergi mencari sumber suara, dan mungkin kesalahan yang ku sesali sampai sekarang, kami tidak minta izin pada kaka pembina.

Bemodal senter dan satu buah petromak kecil, kalau di hutan cuma ini yang bisa kami andalkan, dan juga jaket hangat melilit di tubuh, kupluk penghangat menghiasi kepala. Lebih mirip seperti penjaga vila di puncak, aku tertawa kecil melihat style temen-temangu yang extime itu.

Kami menyusuri gelap malam, suara hewan malan jelas hanya jangkrik dan beberapa hewan lain yang masih ronda, ini sangat sepi sekali, secara di hutan luas dan gelap, udara malam menambah angker suasana. sumber suara masih terdengar, perlahan makin kecil dan membesar kembali.

Lia: “pulang ajah yuk? merinding niiih gue?”

Ria: “ah dasar penakut lo!”

Shinta: “belum juga ketemu sumber suaranya, udah takut duluan. payah nih?

Icha: “diam dulu kenapa? belum juga jalan. baru 5 langkah nih *te… te… te… tetet. uut permatasari* udah pada takut, tuh liat camp kita ajah, masih ketinggalan!.

Shinta: “KELIHATAN KALI!” *kesal

icha: “itu maksudku!” *nganguk2

Suara langkah kaki terdengar dan menghilang lagi, kami terdiam dan terpana, belum apa-apa lia mau menangis. “dasar gorila cengeng alay” jawabku kesal. suara langkah kaki menghilang, mungkin saja itu adalah dahan yang jatuh, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang suara bayi menangis tak terdengar lagi, mungkin kecapean menunggu kami, atau mungkin mamanya datang, Namanya juga cerpen. hanya terjadi dalam cerita

Ketika kami melanjutkan, lagi.. lagi.. lagi. Kami harus.. takut, terkejut, dan merinding, napasku rasanya akan terhenti, beruntunglah aku, karena lobang hidungku besar dapat menyedot udara lebih banyak, berbeda dengan Lia dan Sinta, hidung mereka mancung ke dalam, seperti hidung kingkong. ini mengakibatkan napas mereka sesak, apa lagi kami lupa membawa oksigen, Ria tertawa kecil memandanng mereka,

Di depan kami sesosok babi hutan berukuran raksasa dan 2 singa muda tewas tercabik-cabik. Daging babi hutan perutnya terburai dan tulangnya berceceran di tanah, belum lagi ke dua singa muda dengan kepala yang hancur, jangan tanyakan jenis kelaminnya, karena saya bukan dukun pemirsa.: -p

Di sertai cakaran pada tubuh mereka, daging singa itu sedikit amis dan kelihatan membiru, mungkin sudah beberapa hari mereka tewas

“Apa yang terjadi di sini?” kataku memandang sahabatku

ICha: “gimna kalau dagingnya kita bawah pulang, buat barang bukti, sekalian buat makan di rumah?, hahaha”

Lya: “mank kamu mau makan daging babi sama singa!, ini kan bulan puasa bro!”

Icha: “justru itu daging mahal bro..! *tertawa sinis penuh kemenangan,

Shinta: “tapi kira- kira apa ya?, yang menyababkan mereka tewas tercabik-cabik seperti ini?”

Ria: “mungkin di bunuh orang untuk lebaran?, daging mahal, daging babinya bisa di campur dengan daging sapi. ckckc, eh gimna kalau kita bakar ajah?, untuk makan malam kita! *ide buruk jangan di tiru*

Icha, lia, Sinta: “ggggrrrr, dasar otak bisnis! *gebukin shinta rame-rame*

Di saat kami sedang memperhatikan dan menganalisa keadaan korban BABI (jangan tersinggung lo) dan singa, kami di kejutkan sebuah Suara auman dari balik semak-semak. sebuah suara hewan malam, tepatnya sesuatu yang sangat menyeramkan, sangat keras sekali, seperti beruang *yang di nobatkan sebagai bintang paling kaya, kan ber-uang, kalau miskin bukan ber-uang tapi kere, kaya itu pilihan, miskin itu bukan nasib, tapi karena faktor malas. makanya nama mu ganti beruang, walau miskin ga akan di hina, terus kalau pacaran, cewe atau cwomu bilang “dasar buaya darat, kamu tinggal bilang seperti ini?. “aku bukanlah buaya, aku beruang kutub!”*

Ternyata benar perkiraanku, seekor beruang ganas, binatang besar dan tinggi sekitar dua meter muncul dari balik semak, matanya menyala dengan taring siap menerkam kami, aku menjatuhkan senter karena saking takutnya, aku dan ketiga temangu. lia, Ria dan juga Sinta tak bergerak. *yailah, kalau mereka berjoget gue tabok satu-satu, kalau dua-dua nanti gue yang di gebukin :-p, di situasi seperti ini lagi*.

kami saling berpandangan, menahan kaki yang mulai tak bisa di ajak kompromi untuk bergerak kabur.

Icha: “kalau aku hitung sampai tiga..”

Ria: “kita lanjutin ya!”

icha: “bukan begooo, kita kabuurlah, emang kita anak TK!” *kesal

Icha: “1… 2… 3… KABUUURR!”

Kami menyusuri jalan kembali pulang. jatuh terhempas dan berdiri lagi. Di belakang kami seekor beruang liar ganas dan kelaparan mengejar kami tanpa memberi waktu untuk kami memperkenalkan diri apa lagi menanyakan status hubungan kami di fb. *alfred koplak :-p

Pencahayaan yang kurang dan susana gelap malam. menjadi kesulitan kami, tak tau arah ke mana harus bergerak, ke mana kami melayangkan pandangan, kami benar-benar salah alamat.

*[teeeet.. teeet Ayu kingclong-alamat palsu]

Yang di benak kami saat ini terlepas dari binatang buas ini. “TEMAN-TEMAN KITA AKAAAN MATIII!” aku berteriak menembus malam, membangun para burung yang sedang bercinta dengan mimpi malam

“jangan bilang begitu…!, aku belum punya pacar dan mau menikah dulu, masa stastu jomblo terus di fb!” Lya menimpali sembari melemparku dengan balok di tangan. terlihat jelas betapa ia tak laku-laku. apa kami akan selamat dari binatang buas ini?

Malam gelap semakin larut, beruang yang kelaparan belum lelah mengejar kami, padahal ini yang Ngetik udah

Mau patah jarinya. Sampai akhirnya langkah kami terhenti. sebuah jurang sekitar dua meter dan di bawahnya sungai mengalir dengan kedalaman hampir 100 meter. kami berhenti. saling berpandangan, jantung memompa begitu cepat, tubuh kami sangat lelah. keringat menjalar jatuh.

Icha: “sekarang bagaimana?”

lya: “kta tidak mungkin lompat menyebrang, kalau sampai jatuh…?, kemungkinan besar kepala kita akan membentur batu di bawa sana, sia-sialah kita lari, dan sudah pasti cerpen ini tamat riwayatnya!

ria: “cara satu-satunya kita lompat menyebrang, berdoalah, supaya kita selamat dan jika mati nyawa kita di terima masuk surga bukan neraka?”

shinta: “dasar… bodoh!, tidak ada waktu lagi untuk berdoa, justru beruang itu yang akan berdoa duluan sebelum menikmati daging kita!”

Icha: “ok,! tidak ada pilihan lain’ selain kita harus terjun ke dasar sungai dan lebih baik berdoalah supaya tidak ada piranha di sana, yang tidak berani, silahkan di sini biar di santap beruang untuk berbuka pausa!” Aku berteriak sembari menerjunkan tubuhku ke jurang, aku menutup mata, berharap pada keajaiban ilahi. aku jatuh ke dasar sungai, hampir saja kepala ku membentur sebuah batu raksasa di depanku, sedikit lagi kepalaku membentur batu di depanku. aku merenang ke permukaan. di susul Sinta, kami berdua saling berpandangan, karena Lia dan Ria belum muncul. beberapa saat muncul Ria dengan benjol sebesar buah pepaya karena terbentur batu kerikil di dasar sungai.

Sinta: “kasihan banget, pasti banyak dosanya nih?” *tawa ngakak

Icha: “tapi di mana lia?, kok ga muncul-muncul?!”

Kami mencari sekeliling. tapi tidak ada, “Aaaaah Tolooong aku Broo!” sebuah suara menggema dari atas jurang. kami mencari datangnya sumber suara.

Aku, Ria dan Sinta tertawa Puas, jungkir balik, sambil makan linggis bagaimna tidak di atas sana, teman kami Lia, sedang tersangkut pada sebuah dahan. *pantas saja tidak jatuh-jatuh*

Dan di atasnya lagi, kira-kira 4 meter dari Lia. beruang melihat dengan mondar-mandir, jelas ia mencari cara untuk turun, mencoba meraih badan Lia yang tersangkut. sampai akhirnya ia pergi dan berlalu pergi. “ku harap ia tak kembali?” kata Lia marah-marah.

karena dahan pohon tak kuat menahan beban Lia akhirnya dahan itu patah, menjatuhkan seonggok manusia turun ke bumi dengan indahnya. bunyinya sangat dasyat, seperti ikan paus terdampar.

Kami menghampiri, menarik serta menolong Lia,

Lia: “ah,.. sialan banget tuh beruang!, masa aku mau loncat, dia tarik baju aku?, untung bisa lolos, hadeeeh… pait, paiit, kalau ketemu lagi, aku laporin orang tuanya, dasar tidak punya hati!” Lia kesal sekali kelihatannya.

Icha. Shinta, Ria: “gubraaak!”

shinta: “lagi lama banget si!, mau terjun ajah, pake minta maaf ma ortu segala, mana mereka dengar!”

Lia: “ya udah sih.. sepele ga pake R. mana ku juga lupa lagi bawa selimut lagi”

Ria, Icha, Shinta: “buat apaaan sarung?, mau di sunat!

Lia: “kedinginan akunya broo!”

Icha. Ria, Shinta: “gubraaaaak” *lya di gebukin rame-rame dengan golok wiro sableng!”

Kami duduk termenung, terdiam membisu. kedinginan dan menyeka air yang turun. hujan yang turun menambah beban kami, sebuah gua kecil tak mampu melindungi, aku menangis, sedih sekali. kenapa harus keluar diam-diam, “pasti kaka ketua dan yang lain sedang mencari kami?” aku marah pada diriku sendiri.

Petir menymbar di langit, hujan yang turun, hanya lampu dan senter jadi sahabat di gue ini. suasana hening, sepi sekali

Shinta: “kalau aku mati sekarang!, aku mohon kalian jangan sedih ya!” *menghapus air mata*

Icha: “kenapa kamu berpikir demikian?, kami tak mungkin meninggalkanmu mati di sini sendirian!, ga usah berlebihan!”

Shinta: “udahlah, ini bukan saatnya berdebat!” *kesal

Lia: “bukannya pikirin gimana kita keluar dari sini malah ribut terus, pusing gue dengarnya!”

Icha: “eh.. lo juga jangan ceramah deh, kan lho, yang ngajak kita jalan keluar!

Lia: “kok loh, malah nyalahin aku, terus aku harus bilang apa lagi?, kan kesepakatan kita bersama. mana ku tau di sini ada beruang, ga usah nyari gara-gara cha!”

Shinta: “hey.. udah… udah!. kok malah serius sih?, kalian bukannya kasih ide malah bikin suasana makin buruk!”

Shinta berlari ke pojokan dengan menangis, membuat Aku dan Lia saling terpana, aku duduk temenung. “ini bukan salah siapa-siapa?, tidak ada yang bisa menolong kita di hutan ini, selain kita sendiri yang harus mencari akal untuk keluar dari sini!?”

Aku, Lia dan Ria menghampiri Shinta, memeluk dan menghapus air matanya.

Terdiam dalam gerimis hujan yang mulai reda.

Setelah semua tenang

Lia: “sekarang kita kembali ke camp, usahakan untuk tidak terpisah satu sama lain, persediaan tenaga kita terbatas!”

Kami mencari jalan dan akhirnya kami berhasil keluar dari sungai, tantangan kami sekarang melewati hutan belantara ini dan mencapai camp. langit yang menghitam kini menjadi terang oleh sinar bulan. sinar bulan memberi kami sedikit harapan, rimbunnya hutan di tambah arah yang tak jelas menghambat perjalanan kami, persedia yang kurang dan peralatan yang kami bawa, membuat kami mulai hilang akal, kami mulai kelaparan, dan tak tau bagaimna mendapatkan makan, untuk memuaskam cacing-cacing di perut kami yang mulai menciut, berdemo minta makan. arah tujuan yang tak jelas, mengharuskan kami istrahat dan jalan lagi. terpaksa kami bermalam di hutan, dengan tubuh kedinginan, dan kelaparan sangat. beralaskan rumput liar dan dedaunan seadanya.

Shinta: “padahal di rumah aku tak pernah tidur di lantai, kasurku empuk, kedua orang tua yang sayang sama aku, sekarang aku tak tahu harus gimana, tidur di atas rumput, aku merasa tak berguna, aku ingin membalas cinta mereka!” Sinta menangis mengenang masa indahnya di rumah. sekarang hanya kami dan kesunyian, meratapi kesalahan yang harusnya tak perlu.

Icha: “Sinta sayang?, kamu jangan sedih, malah kami ikut sedih?”

Lia: “kamu sih enak shinta, coba aku!, tak pernah melihat papaku sejak kecil, berkali-kali aku menanyakan pada mamaku, tapi ia selalu marah dan menangis, hingga aku tak pernah menanyakannya sampai aku tumbuh dewasa seperti ini.

Ria: “udah.. udah..!. jangan bikin suasana tambah sedih, kita semua sedang tersesat, aku tahu kalian merindukan, rumah, sahabat, makanan, pelukan orang tua. tapi ini bukan saatnya!. sekarang kalian tidur!”

Aku mendekati Lia dan Shinta yang sedang menangis, Aku berusaha menghapus air mata di pipi mereka, memeluk dengan hangat, aku bisa merasakan kesedihan mereka saat-saat ini, “jangan nangis lagi Shinta dan Lia, kita pasti pulang, percayalah. kalian tidak boleh putus asa, hidup ini harus di jalani, apapun resiko dan alasan. bukan di tangisi, itu bukan pilihan terbaik, keluarga yang lengkap belum tentu bahagia, kalian harus menciptakan kebahagian itu sendiri, dari kecil aku dibesarkan oleh nenek, orang tuaku lebih memilih bisnis mereka, pulang malam, di saat aku terbangun mereka tidak ada, karena mereka telah pergi ke kantor, sedih sekali, setiap doa ku di malamku dinginku, cuma satu. “tuhan kenapa kamu menciptakanku hanya untuk menikmati kepalsuan dunia?, kenapa aku berbeda?, aku tak butuh uang di laci, aku bisa bertahan tanpa makan tapi… aku tak bisa makan kalau hatiku menangis, aku inginkan hanya pelukan hangat dari orang tuaku, tapi mereka terasa asing bagiku, rumah ini layaknya kota mati dengan penghuninya yang tak saling mengenal atau menyapa. “aku menangis lepas. air mataku perlahan menampakan dirinya di sudut-sudut mataku

Suatu malam kaka ku datang dalam keadaan mabuk, rasanya aku ingin mengusirnya, dari mulutnya keluar bau alkohol menyengat. ia merebahkan tubuhnya di kasur dan… dan tak pernah terbangun lagi esoknya, ia terlelap di malam-malam panjanganya, hanya malam dan bintang yang menemani kesunyian dalam tidur panjanganya padahal hanya dia kaka, teman, sahabat dalam hidupku, sejak itu aku mulai mengenal dunia malam. aku merasa tidak ada yang mengurusku, papa, mamaku sibuk dengan bisnis, uang dan uang, kapan mereka ada waktu untuk anaknya, mungkin saja aku bukan anak mereka?, hanya nenek yang mengurusku, tapi ia terlalu tua. tenaganya pun tak sanggup lagi membimbingku, mengenalkan aku tentang kebenaran kehidupan ini. Nenek ku meninggal. mungkin karena kelelahan, tak sanggup lagi dengan penyakit yang sejak lama mengusik raganya

mama dan papaku, bertengkar hebat di sebuah malam yang dingin itu, aku hanya dapat melihat dan mendengar dari kaca kamarku, aku bosan sekali, ini bukan pertama tapi berulang-ulang, mungkin setiap hari. membuatku semakin hancur, marah dengan kedamaian hidupku. sekarang siapa yang lebih kacau!” aku menangis memeluk pundak kedua sahabatku.

Shinta dan Lia terdiam memandangku, mereka menghapus air mata dan tersenyum padaku, “kita pasti selamatkan?” Lia memandangku. aku mengangguk tanda setuju,

Aku menguap tertidur, tapi sebuah gerakan dari dalam semak-semak beberapa meter dariku, mengalihkan perhatian Ku, Shinta berlari membangunkan Ria yang sedang tertidur. “cepat bangun ada bahaya!

Mahkluk apa yang ada di balik semak-semak?

Walau nyawa Ria masih belum sadar karena di alam mimpi. ia bangun juga dengn tiba-tiba membuat kami kaget. kami berempat diam terpaku, perpelukan menunggu binatang apa yang berada di balik semak belukar

Icha: “ya.. tuhan semoga itu bukan beruang!. semoga itu justin bibir aja ya?”

Icha, Ria, Ria: *gubraaak *Lia di gebukin pake hamer*

Kami terdiam dalam keheningan. berharap dan menanti, lima menit kemudian ternyata yang keluar bukan beruang tapi seekor kelinci. membuat kami kesal dan saling perpandangan. Aku mengedipkan mata.

“kejaaaar, hajaaar. jangan sampai lepaas!”

akhirnya kami bisa menikmati makan malam dengan kelinci panggang. kami bersenda gurai. menikmati dingin malam ini. bagiku ini sebuah kebersamaan hangat yang tak pernah ku rasakan selama ini. seumur hidupku. jangan biarkan berlalu kesempatan indah ini tuhan. “jika kita selamat, dan tua nanti ingatlah hari indah ini kawan, di sebuah malam dingin 4 sekawan dengan dingin angin malam.” kataku berbisik lirik

Sinar mentari menyilaukan mata. menerpa tubuh kurus nan bersekat, berselimut rumput liar. kami terbangun mengucek mata, tersenyum kecil dan tertawa satu sama lain tanpa alasan yang jelas.

Icha: “ha ha ha, Lia beleknya seember, tapi bagusan begitu, Biar romantis, Aku tertawa melihat Lia dengan belek dan iler mengering menumpuk semalam

Lia “ehmmm ada apa ya?” *belum sadar juga ternyata*

Ria: “aduuh, rasanya mau patah tulangku tidur di tanah, cuma beralaskan rumput, menyebalkan sekali…!” Keluh ria membuat kami tertawa.

Icha: “ssstt. aku merasa ada yang aneh!” *hening

ria: “ada apa?, ada beruang kah?” *berbisik*

Icha: “bukan tapi apa kalian tidak sadar, ke mana perginya mahkluk cantik bernama Shinta?”

“WAAAAH!” kami teriak bersamaan

Shinta: “Ada apaaaa?” jawab sebuah suara dari atas dahan pohon

*gubraaaak* ternyata Shinta sedang tidur di atas pohon* dasar anak gorila, Tempatnya ya? Di atas*

Shinta: “sori.. sori aku takut nanti beruangnya datang, kan aku pasti selamat, paling kalian yang di cicipi cipiki duluan!” shinta berkata dan turun, tapi karena kepleset akhirnya ia jatuh dengan kepala duluan menumbruk tanah.

“aaaaakkkkk!,”

Lia: “biar tahu raaasa!, kena karma karena tidak setia kawan!” kami tertawa.

“sialan kalian semua, malah tawa bukan tolongin…!”

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Entah kami di mana sekarang, yang ku tahu, kiri kanan ku pohon menjulang tinggi, dengan dahan besar di mana-mana, berkali-berkali kami harus memutar arah, karena tebing dan jurang menghalangi di depan. kami kelelahan, keringat menguras energi, lapar mulai menjalari tubuh, kami duduk termenung pada sebuah pohon oak yang rindang. kami terdiam, keadaan hening. di tanganku hanya bermodal senter yang hampir padam. dan sebuah petromak. terik mentari seakan membakar bumi

Shinta: “sekarang gimana, di mana ini kita!”

Lia: “kita terlalu jauh tersesat, persedian tidak ada, berdoa saja ada makanan datang lagi!”

Ria: “kalau aku selamat, ka… lau.. sela.. mat!”

Shinta: “ia, kenapa? Ria.?!”

Ria: “aku mau makan yang banyak banget!”

“Cuma mau bilang itu!” shinta trlihat kesal. sementara Ria senyum-senyum dengan gigi tonggosnya tanpa bersalah.

Shinta: “kalau aku mending di sini saja!” kami mengalihkan perhatian pada Shinta,

Icha: “mank kenapa? pasti karena kita ya?” aku berkata sembari tersenyum pada Lia dan Ria.

Shinta: “bu.. bukan itu kok!”

Icha: “terus kenapa SIH?!” *mulai kesal sendiri

shinta: “takut aja! takut sama hutang di warung yang menumpuk, gue kan diam-diam hutang di warung!”

Icha, Lia, Ria: “gubraaaaak, “dasar anak setaan!”

Lya: “parah..! ngapain mikirin hutang di saat begini, eror juga kamu tuh anak!” *mata merah bertanduk*

Icha: “tenang ajah, kalau selamat, aku usahakan untuk menolongmu Shinta!”

Lia: “emank punya uang?, aku juga ya!, jajan cuma 20ribu sebulan!”

Icha: “mau berapa?. dua juta?, tiga juta? *kesal

Lia: “di kasih tuh duit..?”

Icha: “Gaaa” mau duit. Ya kerja donk, enak aja loo!”

Tidak terasa sudah mulai siang, terik menyengat, kami melanjutkan perjalanan mencari tujuan, akhirnya kami sampai pada sebuah sungai. airnya jernih dan kelihatan sangat mengoda sekali untuk di nikmati. bukit terjal mengelilingi. sebuah gua terlihat mengucurkan kehangatan di sampingnya. tanpa ba. bi bu lagi. kami lari teriak kegirangan menikmati kesempatan langkah ini. rasanya sedikit mengurangi beban. kalau tidak bertemu sumber air ini mungkin kami akan dehidrasi mati kehausan, dengan bermodal alat ala kadarnya, kami memancing ikan, walau cuma 3 ekor tapi ini benar-benar membantu kami bertahan.

Kami memasuki sebuah gua dekat sungai untuk berteduh. membuat api dan memanggang hasil tangkapan. tiga ekor ikan menunda kematian kami, di saat kami beristrahat dan hendak beristrahat, dua buah mata melihat dari lorong gua yang gelap, suaranya aumannya menggema di kuping, dapat di pastikan ini beruang. “ya? seekor beruang bego, yang tak tau diri, teriak kok kencang-kencang, pelan juga kita tau itu beruang”

Lia: “kan biar dapat feelnya, ga lucu kan?, kalau beruangnya berbisik di kuping, cuma mau bilang. “di makan dulu ya kalian!” mana lucu…

Icha: “aaah, biarin!, pokoknya aku mau nyalahin tuh beruang!” *edan gila

Kami menjerit bersamaan, saling menatap satu sama lain,

Icha: “kenapa beruangnya alay banget, tidak bisa liat kita tenang sedikit ajaa!”

Lia: “saatu… duuua… tiiga!”

Shinta: “e, e, eempat!” *gubraaaak*

Icha: “lari begoo!” *Lia di seret

“lariii selamatkan diri masing-masing!” kataku menembus kesunyian.

Kami lari menembus semak belukar. seekor beruang, tinggi dengan body bak Ade namnung mengejar. kami begitu beruntung karena sedikit terobati rasa lapar dengaan ikan tadi, kalau tidak, mungkin beruang ini dengan mudah mengunyah kami bagai lolipop. Badan beruang yang besar membuatnya lari tidak begitu kencang.

“Mampussss kita kali ini, beruangnya benar-benar marah kediamannya kita buat memanggang tanpa izin, “Lia mengomel dengan napas satu, dua

“dia bukan orang, mana mungkin dia ngerti pinter kediamannya kita usik!” Shinta berkata kesal

Icha: “beruangnya mengejar bukan karena marah, tapi dia lapar bodoh!, sangat lapar!”

“kalaaau begiiittuu kita tidak akaan loloss kali ini!” Ria menimpali dengan lari semakin kencang, seperti kuda bi*al

Siang terik di bawahnya 4 manusia cantik sedang di buru, bukan memburu. kisah tentang hidup yang kasar dan penuh tangis menyusuri setapak demi setapak arah jalan hutan.

“akuuu taak mauu matii tuhaaan!” Aku teriak menembus hutan belantara. suara ku menggema terdengar ratusan kilo bait.. menyusuri sudut-sudut hutan”

Terik mentari memanaskan bumi dan juga tubuh kurus kami yang berbalut tulang dan kentut. Beruang ganas dan lapar masih mengejar. padahal Alfred, jari-jarinya sudah jadi jempol semua… Saya berpikir, mungkin beruang bodoh ini menyangka kami mengajaknya lomba lari. atau mungkin ia tak pernah belajar untuk mengalah pada mangsanya. ini alasan kenapa saya tidak pernah mau memelihara beruang. biasanya saya lebih tertarik memelihara cicak atau laba-laba dan juga nyamuk. itu karena mereka tidak pernah makan banyak dan protes ketika tidak saya kasih makan, dan memang ada sendiri di rumah (kok malah curhat, bilang ajah ga punya duit om T-T. )

Aku mulai lelah, Lia, Shinta dan juga Ria mulai terlihat tak mampu lagi bertahan. sudah berapa lama kami lomba lari dengan beruang ini, yang ku tahu aku tak sanggup lagi. berlari, apa lagi ini bulan puasa, cacingku mungkin sudah tewas mengenaskan, *(biar tau rasa tuh cacing )

Saat aku melihat ke belakang ternyata beruang sudah tak ada.

Icha: “Haaa… beruang sialan di kerjain kita, pergi ga bilang-bilang, ngapain dari tadi kita lari!” aku teriak kesal.

Icha: “hey…!’ ngapain masih pada lari, emang tidak lelah, beruangnya saja sudah tidak ada!” aku teriak menghentikan langkah kaki teman-temanku yang belum menyadari kalau beruang telah tiada.

kami berhenti, napas tersenggal, jantung memompa deras, kami kelelahan.

Shinta: “ha ha ha kasihan dia paling pulang ngadu mamanya!”

Ria: “bukan, tapi sama bu guru, emang kamu kira dia orang orang!” *kesal.

“yaaa.. teman-teman tamatlah riwayat kita.” aku berteriak sembari menunjuk sebuah bayangan tinggi, besar. Dengan cakar tajam, sang beruang berdiri mengaum di depan kami, memperlihatkan giginya yang tajam, setajam silet! air liurnya menetes, jelas ia lapar dengn penuh amarah. Kami bisa merasakan aumannya yang dapat merontokan bulu ketek monyet dan memutihkan kulit bayi gorila dan juga menggetarkan bulu hidung kami. dari mulutnya bau sekali, saya berani jamin beruang ini- jorse- (jorok sekali) karena tidak pernah menyikat giginya. (sampai sekarang gua juga belum pernah liat beruang sikat gigi, *pake pepsodent lagi)

Entah lewat mana jalannya, sang beruang telah berada di depan kami. ternyata dia menghilang hanya untuk mengalihkan perhatian kami. pintar sekali, berati kami telah dibodohi. (cucok deh :-p)

Kami berdiri ketakutan.. beruang mendekat.. berjalan dengan santai dan yakin sekali mangsanya tidak akan tertolong lagi kali ini… kami diam terpaku, pasrah. tenaga kami terkuras dan kami tidak punya kemampuan untuk melawan. tinggal beberapa meter lagi ia mendekat. jarak kami hanya 3 meter dari wajahnya.

“jangan takut aku lagi puasa kok” (coba seandainya beruang bilang kaya gini, )

Tiba-tiba entah kenapa, sang beruang melotot, seperti melihat sesuatu. berdiri Berbalik dan berlari ketakutan di semak belukar

Shinta: “a.. a.. ada, apaa?”

Icha: “ha ha ha, takut barang kali, padahal tadi mau aku kasih jurus kaki seribu aku,! *bergaya ala kungfu

Ria: “wiiiiiddiiiiihh, jurus apa tuh, kaki seribu!”

icha: “jurus kabuuurr ha ha ha!” *tertawa sambil mengepalkan kedua tangan di tanah

Lia, Ria, Shinta: “gggrrr dasar anak seeetaan!. *icha di gebukin rame rame sampai botak*

Tawa kami terhenti, sebuah tombak yang meluncur hampir melebarkan lobang hidung Ria, sedikit lagi Ria meregang nyawa, dari mana tombaak ini!”

Saat kami melihat ke belakang, mata ku rasanya mau copot, kaki kami bergoyang merinding, aku tak dapat mengatupkan mulutku, Shinta yang ikut-ikutan mangap dari mulutnya keluar laron. (di kira spitank) Lia. ingusnya naik turun kaya anak kecil minta balon. shinta.. lebih parah.. hidungnya mimisan kaya orang lagi dapat jatah bulanan, (tapi jalurnya salah)

Di belakang kami sekumpulan manusia dengan tato putih hitam menyerupai zebra di seluruh badan, rambut mereka keriting melebihi bulu ketek bencong, dan lebih mirip menyerupai bulu terlarang (tapi ga mirip rambut alfred, kalo rambut alfred, terbuat dari sejuta punut kelapa, puass… puasss!, kembali ke laptop)

Mata mereka yang kelihatan putihnya saja, leher mereka sengaja atau tidak tapi ada sebuah kalung bertumpuk dari besi memanjangkan leher mereka, ini lebih mirip leak bali. yang unik lagi. hidung mereka lebar sekali, sebesar lobang hidung gorila, (lebih dikit juga ga apa-apa). dan di tindik dengan tulang.. ukuran tulang itu yang menurutku unik kenapa?, karena panjang, mungkin 30 cm di bagi di kurang dan setelah di kali lagi di ceburin lagi ke wc.. ya mengerikan sekali. itu intinya.

Mereka menatap kami, beberapa di atas pohon, semuanya dengan tombak di tangan, menunggu untuk melempar ke arah kami, jumlah mereka sekitar 2 orang.. (gubraaaaak.)

Sekitar 200 jiwa. entah aba-aba dari mana. mereka teriak seperti orang ketakutan menjerit dan menangis.. membuat suasana di hutang lebih mirip bangsal pembantaian. lapar dan haus (oki jelly drink) membuat kami tak berdaya (kenyang kaya orang hamil juga ga mungkin lolos sich) dan seorang dari mereka, tinggi, besar, paling jelek, maju ke depan. ia menunjuk. berbicara dalam bahasa aneh. beberapa kali ia memukul kepala sendiri, mungkin karena kami diam terpaku menatap langit, barang kali di sana ada jawabnya. (teeeet… teeeeeet hayo ni lagu siapa?, ya, 100 ini lagunya Ebiet g. kaka). (“coba tanya pada rumput yang bergoyang -sampai biji matamu kendor… kepala mengebul karena kepanasan.. tidak akan ketemu jawabannya, mana ada rumput bicara. “maaf bang ebiet, cuma buat lelucon *sujut-sujut sembah”

Entah berapa lama ia ceramah. tapi yang pasti temen-temen di belakangnya. mulai menunjuk marah dan terpaksa ada yang duduk (mungkin sama seperti upacara sekolah, kalo kecapean diam-diam duduk di tengah kerumunan pasang tampang bloon dan tanpa merasa bersalah, terakhir pasang headset di hidung, eh kuping, sambil kepala goyang-goyan nyari sensasi, ya.. walau cuma headset yang tersambung karena hp mati.. atau memang tidak ada musiknya.. ciri-ciri anak sekolah yg alay habis kena ambeyen)

karena lama menunggu kepala suku mereka yang tidak berhenti merocos kaya mercon.. sebuah palu melayang membuatnya pingsan [kok bisa palu melayang. #nah mungkin itu yang buat kepala suku ini pingsan]

Mereka, membunyikan suara seperti terompet dan maju menyerang.

semua gelap… da.. dan… Apa aku sudah mati!.. aku merasa sakit seluruh tubuhku, dan lagi aku seperti melayang.. perlahan-lahan aku membuka mata

“yaaa aku sedang melayang”

kedua tangan dan kaki ku terikat pada sebuah kayu yang di topang dua orang, lebih tepatnya aku mirip seekor babi yang habis di buru, tidak manusiawi sekali, kalau lolos sudah pasti aku akan melapor ke komnasham.

“lepaassskaaan akuu!”

ke mana kami di bawah?

kenapa kami di buru?

Terik matahari membakar. lepas dari beruang malah kami di tangkap suku pedalaman yang ganas, ke mana kami di bawah pergi..?

“Hey lepaskan aku, bilangin.. mamaku nanti..!” sekeras aku berteriak dan meronta tak bisa mengalihkan perhatian mereka.

Di depanku Shinta sama sepertiku, mengantung kaya jemuran baju. di belakangku Lia dan Ria. kami seperti buruan yang berhasil di tangkap.

Shinta: “kira-kira kemana kita akan di bawa pergi?”

Lia: “hey…!, Tidak usah teriak-teriak sakit kupingku?. mungkin mereka manusia kanibal alias pemakan daging manusia…!”

Ria: “uwaah!. mampuslah kita?. hey… lepaskan dagingku tidak enak, aku jarang mandi..! *meronta

Icha: “iyaaa. mungkin kita akan di buat soto ayam, buat berbuka bersama, tolong… tolong… tolong aku orang paling cantik tidak enak dagingnya. makan saja Ria, Lia dan Shinta, mereka masih segar, liat aku kurus…!” suara ku berlari menggema di hutan. tapi mereka tidak menghiraukan.

kami di bawah melewati, sungai, gunung, laut *ga mungkin laut*

Ahirnya saya melihat sebuah pondok perkemahan. anak-anak dan istri mereka menyambut dengan. rambut kriting, hitam, bau dekil, badan di penuhi gambar hitam putih menyerupai zebra, dan lagi penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan manusia haus darah. mengerikan!. Aku merinding, aku tak bisa berteriak lagi, suara dan teriak mereka menahan suara kami. Kami di lepaskan di sebuah kandang, tinggi, luas, sebesar kandang gorila.

Tenagaku habis tak tersisa, tubuh ku tak mampu di geraakan, begitu juga dengan Lia, Shinta dan Ria, kami tergeletak bagai manusia yang tak berpengharapan lagi. kami kelelahan sangat. mungkin sekitar 30 menit. Kami merangkak dan berkumpul di sudut jeruji kandang. kami saling menatap, terdiam piluh. air mata kami jelas belum mngering tubuh kami, bau, rambut urak-urakan. sunguh sangat kacau

Langkah kaki perlahan dan mendekat. seorang wanita cantik, putih bening.. cuma dia sendiri yang berbeda. di belakangnya beberapa orang dengan panah dan tombak dan juga pedang para pengawal yang siap sedia. Wanita itu berdiri di depan kami, melihat kami dengan kepala bergoyang ke kiri ke kanan pelan, lalu ia bangkit tertawa liar dan berbisik pada pangawalnya dengan gerakan yang tak kami mngerti. para pengawalnya terdiam sejenak, saling berbisik dan berlalu meninggalkan sang wanita, ia tersenyum dengan gigi ompong 3 di tengah, sementara gigi yang lain hitam dengan bau wc yang menyengat, membuat kami mual ingin muntah, terdengar cacing di perut teriak minta tolong. mulutnya bau sekali, benar-benar menjijikan, sungguh tak adil.. wanita yang dari luar kelihatan “wah” saat membuka mulut kelihatan “week.. hoooeeekk”

Icha: “widiih bau mulutnya sadis amat, bau got depan rumah aku nih.!”

Shinta: “mungkin ia makan anak jin!”

Ria: “mengharukan sekali, mungkin ia makan bangkai tikus sisa di tabrak mang toyib!”

Icha: “kok bisa mengharukan!”

Ria: “ya, terserah saya donk mau bilang apa?, masalah gitu buat loh!” *bertolak pinggang *gubrak* Ria di lempar bh bencong sama suku pedalaman*

Sang wanita memerhatikan dan berlalu. Beberapa saat kemudian hidungku mencium aroma yang sangat lezat. Rasanya nikmat sekali. sunguh menggoda iman. (opo maneh)

Benar saja, dari balik pintu datanglah hidangan mewah sekali. Kami seperti raja yang di beri makan, mereka memasukan makanan itu, langsung kami sambut dengan suka cita. tanpa protes. saya yakin cacing di perut sudah menunggu dengan iler seember. ini. daging apa..? entah, sudah tersedia dengan potongan kecil dan banyak sekali menu lainnya

Icha: “waduuuh mantap, kalau tau gini, mending dari awal aja kita di tangkap!”

Shinta: “baru kali aku makan dengan benar dan enak lagi!”

Lia: “aduh, kok habis makan, perut ku malah sakit!”

Ria: “dasar perut orang miskin!”

Icha: “makanya sedia promag, sama segelas air!”

shinta: “buat apa tuh!, buat jampe-jampein Lia biar ga sakit perut ya?”

Icha: “bukan pinter, biar cepat hamil!” *gubraaaak.

Ya, kalau lapar, perut melilit, minum ajah itu obat, ha ha ha (iklan)

Shinta: “dasar edan, tapi kira-kira ini makanan apa ya? ini menu kok kaya langka banget, jangan.. jangan!”

Icha: “jangan… jangan apaa?”

Shinta: “ini daging manusia!”

Lia: “jiah jangan bilang begitu, sudah aku makan!” *muntah-muntah darah*

Hampir dua hari kami di sogok makan aneh ini, dan anehnya menu selalu sama. ketika hampir sore menjelang malam kami di ikat dan di bawah ke lapangan, padahal masih kangen d jeruji ini *mau makan enak*

Di lapangan

semua orang mengelilingi nyala api besar.. teriak dan tertawa.. menunaikan upacara.. dengan jingkrak-jingkrak dan teriak mereka yang membuat suasana menjadi mencekam.

“apa yang yang akan mereka lakukan pada kami?”

mereka menyeret kami ke lapangan, dan di sebuah tempat duduk, sang wanita yang mungkin saja kepala suku.. memberi aba-aba pidato dengan suara serak, keras bagai lolongan serigala malam, kami ketakutan setengah mati, gelap suasana menusuk otak.

Icha: “teman-teman apa kalian belum menyadari!”

shinta: “menyadari apa?”

Icha: “berdoalah supaya datang keajaiban lagi, karena sepertinya kita akan di panggang di kobaran api kali ini!”

Lia: “pantas mereka menyogok kita dengan makan, mungkin biar kita tidak mati sebelum lebaran, eh harinya!”

Ria: “ya sudahlah apapun yang terjadi” *bernyanyi, belum sempat selesai di getok palu suku pedalaman*

Lia: “huaaa ha ha. kasihan banget sich Ria di getok, mungkin suaranya jelek, fals lagi, kassi…!” *di getok palu juga sama kepala suku,

Aku dan shinta menahan tawa, melihat Lia dan Ria kesakitan dengan jidat membiru bagai cupangan sang pacar, (hayo ngaku)… mau ngelucu malah kena amuk. kasihan..

Kepala suku, alias wanita itu selesai bicara, entah pidato dan pesan apa yang di sampaikan kami tidak mengerti, bahasa mereka aneh dan tak kami pahami. Kembali kepala suku duduk, dan upacara kembali di lakukan, mereka kembali mengelilingi kobaran api dan berjingkrak-jingkrak, entah upacara apa yang jelas ini bukan upacara 17 agustusan, alasannya tidak ada pembacaan UUD.. di tambah kenaikan bendera merah putih

Kami yang terikat tak bisa bergerak. Empat orang dengan badan besar, tinggi, hitam, dengan samurai dan golok menarik paksa kami, sekarang mereka lebih sadis, rambut kami di tarik dan di seret menyapu tanah beralas rumput yang bergoyang.. ini benar-benar menyakitkan. bahkan beberpa terlihat akan menikmati kami hidup-hidup. Tak sedikit yang berteriak di kuping dan meludah, menjambak dan hampir mengigitku. aku bisa merasakan kengerian mereka sekarang, kami di seret melewati kerumunan. dan di ikat pada tiang sekitar 12 meter yang di bawahnya kobaran api, mungkin mereka akan memanggang daging kami hidup-hidup?”

kami di ikat. mulai di tarik ke atas tiang. kami tak bisa bicara lagi, aku hanya bisa melihat samar-samar ke arah ketiga sahabatku Lia. Ria dan Shinta, Darah mengalir dari mata dan hidung mereka, entah apa yang telah mereka lakukan pada ketiga sahabatku.

“teman teman sampai ketemu di sorga nanti”, aku berkata lirih. menatap mereka penuh sayu.

Perlahan-lahan kami di tarik. semakin meninggi, teriak dan gemuruh suara menggemah semakin cepat. Mataku samar-samar hampir tak melihat karena keringat mengalir membuat mataku pedih, Seorang Anak kecil dari mereka berlari dari barisan belakang, menampakan ketakutan, sejenak semua mata tertuju pada lelaki hitam itu. penuh tanda tanya?

Sang wanita kepala suku. bangkit dan berteriak-teriak dengan bahasa aneh, seperti orang kesetanan. dan yang terjadi beberapa detik kemudian, semua orang yang berkerumun berlari. dan kami di lepaskan begitu saja menghantam tanah, ada apa sebenarnya?. Aku mendengar orang berlari kesana kemari tanpa ada yang peduli pada kami lagi, tangan dan kaki kami yang terikat. membuat kami tak berdaya. seperti cacing di tanah, bahkan langkah kaki mereka menginjak tubuhku. samar-samar aku membuka mata.. ternyata seekor beruang mengamuk liar mengobrak abrik semua yang di laluinya. suara teriak, tangis memenuhi tempat sadis ini.

Aku merangkak ke arah teman-temanku yang tergolek lemah, dengan sisa tenaga aku berteriak

“teman-teman. bangun! kalian mendengarku kan?, ini kesempatan kita untuk lari, Ayoo!”

Tak ada jawaban, hanya suara ribut orang berlari menyelamatkan diri.

Aku menendang mereka pelan dengan kaki ku, tak ada reaksi, mata mereka hanya kelihatan putihnya saja tanpa berkedip. darah mengalir dari hidung dan kuping, mungkin karena jatuh dengan benturan keras, aku menempel pipiku ke hidung mereka, tapi aku tak merasakan aliran udara dari hidung mereka.

“Mereka tewas?” aku menjerit, aku mendekatkan wajaku ke Lia. ada setitik harapan, napasnya masih tersisa walau tersendat-sendat. aku menanggis keras, dan mengoyang-goyangkan tubuh mereka.

Aku memandang sekelilingku.. suasana hening, mayat bergelimpangan, ini seperti kuburan masal,

apa yang telah terjadi?

Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri, meronta dan memaksa untuk terlepas dari tali yang mengikat, akhirnya aku dapat terlepas juga, Aku melihat tempat ini bagai kapal pecah, seperti habis terkena tsunami hebat. Beberpa gerombolan beruang masuk kembali ke dalam hutan dengan mangsa di mulut mereka.

Aku membuka ikatan tali yang mengikat di tangan Lia. Aku menepuk pipi nya pelan, “hey lia.. bangun!” kita harus lari dari sini dari tempat terkutuk ini”

Tak ada jawaban, aku menyeretnya ke tempat sepi, di balik semak belukar, Aku tak tahu harus bagaimana, aku menekan dadanya berulang-ulang, Lia tersendak, memuntahkan darah dari mulutnya dan perlahan membuka matanya.

Lia: “ada apa denganku?”, apa sekarang kita di surga?”, aku melihat cahaya putih..?”

Icha: “ah.! lebay banget? Apanya yang cahaya?, kita masih di sini, orang-orang menyeramkan tadi entah ke mana? yang penting sekarang kita lari dari sini”

Lia: “terus bagaimana dengan yang lain?”

Icha: “lupakan mereka, saatnya kita bilang wouuw* bukan-bukan*” mereka sudah meninggal.

lia: “APAAA!,. meninggal?!” Lia terbangun dengan mata melotot tiba-tiba. membuatku takut, aku kaget setengah hati.

Icha: “kita harus kabur, sekarang, terpaksa kita meninggalkan mereka di sini?”

Lya: “(plaaaaaak)!”, apa kamu bilang meninggalkan mereka?, dasar tidak punya hati kamu. “Lia menampar dan melihatku dengan marah

icha: “ya?, sudah kamu kembali ke sana dan akan di tangkap manusia kejam itu lagi”

Tanpa mendengar perkataan ku Lia berputar dan berlari ke ara tubuh Ria dan shinta, aku terpaksa mengikutinya, walau takut ketahuan, Lia memeluk tubuh kedua sahabatku Ria dan Shinta erat-erat,,

“ria… shinta, ayo bangun mari kita buat cerita ini ending dengan bahagia..!” Sekeras Lia memanggil tak ada suara, suasana hening sekali, entah aku harus bagaimna. aku menatap Lia mencoba memeluknya, “aku tak ingin petualangan kita berakhir dengan kematian!”

Suara derap kaki secara liar mendekat, saat aku dan Lia menengok jarak di belakang kami beberapa ratus meter, segerombolan manusia berlari, Aku menarik paksa tangan Ria dan Shinta menyeret mereka ke tempat sepi, Aku dan Lia menopang tubuh kedua temanku ke dalam hutan belantara. di belakang kami manusia kanibal mencari. Aku dan Lia bersembunyi di balik sebuah batu besar, melihat mereka mengejar dan menghilang di gelap malam, Aku terkulai lemas, membaringkan tubuhku di batu besar, Ada pergerakan dari Ria dan Shinta, tubuh mereka tersendat dan memuntahkan darah dari mulut, tersadar dengan memegang kepala mereka

Icha: “terima kasih tuhan, kau telah kembalikan mereka” *menghapus air matanya.

LIA: “udah lah Icha, tidak usah di sesali lagi, sekarang kita harus istrahat dulu. Lagi pula Ria dan Shinta baru sadar. Lia memeluk tubuhku erat, aku bisa merasakan kegembiraannya Kini,

Aku, Ria, Shinta dan Lia kembali menyusuri hutan, berjalan pelan, sambil menopang Ria dan Shinta yang belum pulih. kami menemukan air terjun, kami berlari pelan menyegarkan tubuh kami, memancing dan menikmati makan ikan walau kecil dan terlelap menunggu pagi menjelang.

Ketika pagi tiba, aku, Shinta, Ria dan Lia kembali menyusuri hutan, kami menemukan perkemahan kami rusak berat. tapi tidak ada mayat, mengerikan sekali kondisinya,

“apa yang telah terjadi di sini!?” ke mana kami harus pegi!?”

Kami berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak, aku masih ingat saat pertama harus melewati jalan ini. dan

yang harus kami lakukan sekarang adalah menemukan bantuan untuk pulang. kalau tidak?, kami akan mengering di sini, mungkin mati perlahan atau mati di buru hewan lapar. Di beberapa meter, Sebuah pohon besar menawarkan keindahannya, kami termenung sepi. hening sekali di sini, jarak kami terpisah beberapa meter. aku dapat merasakan kesedihan di hati Lia, beberapa kali ia menghapus air matanya yang mengering. membuat kecantikannya sedikit pudar oleh kesedihan. Aku mendekati dan merapikan rambutnya serta menghapus air matanya. *adegannya kaya le*bi*

Icha: “kenapa kamu biarkan air mata ini merusak cantikmu!”

Lia: “aku sedih sekali…!. *menangis, kembali menunduk

Icha: “sudahlah, kita telah melewati beberapa episode dengan menghibur teman-teman yang membaca ini, mereka pasti akan ingat kelucuan dan tingkah bodoh kita,

Lia: “bukan itu masalahnya Icha, yang cantiknya maksa banget”

Icha: “weeekk, biarin..? ada apa sich!

Lia: “aku lagi ngidam makan banyak.

Icha: “bilang aja laper!, sekarang kita harus melanjutkan kisah kita, kasihan ka alfred tangannya udah kriting, udah jadi jempol semua, cuma buat menulis ini, mata belo, karena bikin cerita ini (maksih-makasih :-p)”

Kami kembali melanjutkan perjalanan melelahkan. turun gunung, naik gunung, di tengah-tengahnya pulau jawa? membuat seluruh tubuh ku rasanya mau putus.

Icha: kenapa ya?, alfred ga munculin ajah tukang jual asongan.”

LIA: “lho kok gitu, kita ga lagi di pasar. kan!” *geleng-geleng

icha: “ya, maksudnya ada tukang jual gitu biar kita bisa beli. *ide buruk sekali*

Lia: “sekalian aja munculin peter parker, tinggal bawa kita pulang ke rumah. lalu End dengan bahagia, *hadeehh!* penulis, pemeran sama pembacanya sama steras.. *strees x ah.

Di saat kami sedang bercanda gurau, tanpa terasa kami sampai pada sebuah tempat, beberapa meter air terjun mungkin 30 meter ke bawah, beberapa meter di sebuah lembah di depan kami. sebuah perkemahan. beberapa orang sedang menggotong manusia yang mati, dan dikelilingi orang banyak. beberapa saat mereka berteriak dan berdansa. mirip sekali dengan upacara yang kami alami di tempat suku kanibal

Kami tertegun memandang dari balik pohon rindang ini. saling menatap tak mengerti. beberapa saat mereka pergi ke tempat masing-masing meninggalkan beberapa mayat tergeletak begitu saja di tanah..

Lia: “kejam sekali, apa yang mereka lakukan?”

Icha: “yang harus di tanyakan.. mayat-mayat itu memang telah mati atau memang sengaja di bunuh?”

Lia: “mungkin mereka mempersembahkan pada beruang yang di anggap dewa bagi mereka, mengerikan sekali.

Terdengar sebuah terompet yang menggema di seluruh hutan. dan keaadan menjadi sepi.. hening sekali, sampai Tiba-tiba dari dalam hutan beberapa gerombolan beruang berlari datang dan membawa mayat-mayat itu ke dalam hutan di mulut mereka, Aku menelan ludah, ternyata merekalah yang memberi makan beruang-beruang itu, pantas saja beruang-beruang itu selalu haus darah, kami tertegun menarik napas panjang dan mengeluarkan dari belakang *ampasnya ikut ga ya, bau… bau… bau.. ketahuan makannya paling singkong. *nasib orang suseh*

Saat kami menengok ke belakang, kami kaget, tak bergerak, seekor beruang raksasa, tinggi besar, menunggu kami dengan air liur yang berjatuhan, menatap tajam ke arah kami, air liurnya mengalir semakin deras, sudah di pastikan beruang ini tidak puasa.. dan ia siap menerkam kami dari belakang. belum lagi hilang rasa ketakutan kami. di belakang muncul lagi seekor beruang tidak kalah ganteng eh mengerikan sedang membaca koran, mungkin menungu temannya menyerang dan dia hanya ikut bukber (buka bareng)

Aku menepuk Tangan Lia karena kakinya gemetaran dan giginya berdetak tak beraturan. matanya melotot tajam.. padahal aku juga takut.. bagaimana tidak.. bagaimana kami bisa lolos dari binatang liar ini, kami di tiup saja sudah melayang. beberapa meter di belakang kami sebuah air terjun mengalir jatuh ke bawah dengan deras, mungkin kami akan langsung mati. jika terjun ke sana. karena tinggi sekali. tapi tidak ada cara lain. dan itu juga kalau kami berhasil lari lebih kencang dari beruang.

Icha: “tidaaaak ada cara lain, kita melompat’.. siapkan tenagamu larilah sekuatnya!” sebelum aku selesai berkati eh berkata Lia sudah berlari di ikuti Ria dan Shinta dengan jurus kaki seribu mereka.

berlari dengan begitu cepat, dapat tenaga dari mana mereka*

“heyy… tolloong…?” kataku menyusul tak kalah hebatnya berlari

LIa: “lariiii… yg kencang. bodoh!.. selamatkan dirimu.. !” *teriak.

cha: “waaaah.. siaaalaan, awaas kalian, kalau aku mati duluan aku akan menggentayangi kalian tiap malam, setaaan!” *melempar batu*

Kami berlari begitu cepat, menyusuri semak belukar, sedikit lagi di depan. sebuah air terjun. aku tak menghiraukan apa beruang mengejar atau tidak. aku menengok sebentar, “waaaahh, ternyata mereka mengejar. *lari ngengkang-ngengkang

“Uwaahhhh” terdengar suara Ria di depan. ia telah berlari mendahuluiku. saat aku dekat, ternyata ia jatuh, kakinya tersangkut batu hidungnya berdarah dengan benjol di jidat sebesar bola basket. Shinta langsung menarik temannya untuk berlari kembali.

Langkah kami terhenti.. aku menarik tangan Shinta karena hampir terjatuh ke jurang air terjun di depan kami. sebuah air terjun dengan kedalaman hampur 30 sampai 40 meter begitulah kalau di ukur dengan meteran kayu. *penggaris aja sekalian*

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap Lia, Shita dan Icha, menggandeng tangan mereka, mengangukan kepala dan..

“looooooo… nn. caaaaaaaatttt”

Semua seperti slow motion. aku melihat bibir mereka memble-memble (bahasa apa memble*dower) kaya biebir justin.

Rambut kami tertiup angin. seperti kuntilanak dengan rambut berdiri..

“Byuuuuuuuuurrr” kami tengelam. jatuh membelah aliran air. dalam sekali.. rasanya aku menyentuh dasar.. tumpahan air terjun dari atas begitu keras, menghanyutkan tubuh kurusku seperti kertas.. mataku perih, aku mencari celah untuk keluar.. pusaran air menarik tak tau arah. aku berusaha dengan sisa tenaga yang ada.. napasku hampir habis, aku seperti akan mati. cahaya putih seperti di atasku *lebay*

Pandanganku hilang, aku tak mampu lagi, ada tangan menarik. melayang dan berputar. Menarik ragaku ke permukaan. Aku tersendak, mengeluarkan air dan ikan dari mulutku *untung buka alfred yang keluar, udah kya jin 76*

Pipiku di tepuk dan aku dapat melihat Mereka dengan rambut terurai.. dengan senyum sinis padaku.

Lia: “udah bngun?, jangan alay deh, kalau tidak, aku akan meninggalkanmu di sini”

Icha: “ia, ia, ia, ga bisa liat orang akting dikit apa?” *kesal. *bangun tiba-tiba

Shinta: “ah… alay betul nih anak!

Langit mulai malam.. mentari mulai berhenti bersinar.. kami merebahkan diri di pinggir sungai. melelahkan sekali tubuhku, sungguh ini kisah luar biasa dalam hidupku. kami kembali menysuri aliran sungai, mencari makan, Ria menemukan sebuah tombak, dengan mata runcing sangat tajam, Aku membawanya untuk perlindungan di jalan.

Sejauh kami berjalan tak ada ujungnya. Aku, Ria dan Shinta berteduh pada sebuah tempat dengn pohon besar, untuk merebahkan diri

Lia: “gimna ya keadaan di rumah?, sungguh saya rindu sekali, saya juga rindu pada ortu, apa mereka sibuk ya?”

Shinta: “ini episode terakhir kita, sungguh aku akan merinduhkan kisah ini kembali.. percayalah bagaimana juga, kita harus bisa keluar dari tempat ini?”

Shinta memengang tangan Lia. “apa pun yang terjadi berjanjilah kau tak akan meninggalkanku?”

Lia: “memang kenapa Shinta, sudah kaya le*bi nih kita? Nanti beruangnya cemburu”

Shinta: “ha ha ha, ada-ada aja!” sampai beruang cemburu, anak seetaan, pede gilee” Kami tertawa liar

matahari telah menghilang, di gantikan bulan. di sini begitu sepi, deras tubrukan air sungai, sedikit suara binatang malam. indah sekali, terasa sangat kurang di malam dingin ini.. tak ada pencahayaan.. tak ada makanan.. hanya pertolongan. ku harap tombak ini dapat menolong kami.

Ria: “cepat sembunyi, bahaya!” *berbisik

Ria menarik tangan Icha dan kami bersembunyi di celah batu.

beberapa orang Manusia sekitar 10 sampai 15 berjalan di atas air terjun. suara mereka tak jelas, namun mampu membangunkan binatang malam, cahaya obor di tangan mereka dan tombak, mungkin mereka pemburu.

Lia: “tooo… loong… tooo…” aku cepat-cepat membungkam mulut Lia dengan sepatuku.

Icha: “dasar tolol, mau mati yua!” ngapain minta tolong, sudah pasti mereka orang jahat.. aduuh… mampus kita, tuh liat mereka behenti” *menunjuk

Cahaya obor mereka berhenti, hening. mereka kembali melanjutkan jalan mereka. aku menarik napas dalam. “untung ga ketahuan”

Kami akan keluar, namun Shinta sekarang yang menarik tanganku untuk bersembunyi.

Shinya: “awas.. cepat..!, aku melihat seekor beruang mendek… t”

sebelum la melanjutkan kata-katanya, sang beruang telah menemukan persembunyian kami, matanya seakan menyala, beruang tak memberi kami waktu berpikir, ia mengangkat dan menyingkirkan batu yang menghalangi kami bersembunyi.

“huaaaaa… tolong… ”

Aku tersandung. beruang menyerang di gelap malam, sebuah pukulan dari tangan beruang mampu menghantam menghempaskan tubuh Ria. untung hanya menggores sedikit wajahnya, aku bangkit dan berlari menarik Ria, kalau tidak, sebuah cakaran lagi akan menembus tubuhnya.

Sang beruang makin marah, sebuah cakaran merobek lenganku, “aahhaccckk” lenganku kananku hampir putus. Lia dan Shinta menyeretku ke dalam hutan. Derap kaki sang beruang menggetarkan bulu hidung kami.

Tanah terasa bergoyang. jalan yang tajam dan basah. membuat kami terpojok.. kami hampir terkejar, beberapa kali sang beruang hampir menyeret bajuku. untung Lia, Shinta dan Ria memukul keras tangannya dengan kayu. serta batu di dekat mereka.

kami kembali terpojok.. kaki Lia terkilir karena terjatuh. beruang semakin mendekat. aku merasa ia akan menyantap kami, mungkin dia belum buka puasa, aku dan Lia terpojok pada sebuah pohon, ayunan sang beruang membuat dahan patah, untung kami cepat menunduk dan menghindar.. meski dahan itu hampir menimpa Shinta. membuatnya melotot

Suara beruang melolong, ia makin marah, menyerang lagi dan menjatuhkan tubuh Lia beberapa meter. Lia terhempas jauh menghantam tanah, Ria yang hendak menolong, mendapat cakaran di pelipis kirinya.

“lia bertahanlah tolong jangan mati!” Shinta berteriak, mencoba membangunkan Lia yang terkulai tak bisa bergerak.

Aku meraih tombak,.

Aku berusaha agar binatang tidak menyerang Lia, Ria dan Shinta yang semakin terpojok. kalau tidak mungkin satu cakaran lagi. Lia akan benar-benar tewas, di ikuti Ria dan juga Shinta berikutnya. aku berusaha menakut-nakuti beruang, dengan tombak di tanganku, rasanya aku tak kuat mengangkat tombak ini, tangan kananku terus mengeluarkan darah. menjalar sampai ke tulangku, mataku kunang-kunang. samar-samar akan hilang.

Beruang menyerang, ia mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan menyerangku yang mengusik dirinya.

Aku menacapkan tombak di tanah, mengakibatkan sang beruang melolong panjang saat tubuh yang di angkat tinggi ingin menimpaku, malah tubuh sang beruang tertancap di tombak, aku tertimpa tubuh beruang, aku tak bisa bergerak, cairan darah beruang dari tombak menyembur bagai air mancur,. tak ada pergerakan.. aku berusaha menyingkirkan tubuh sang beruang yang menimpa kakiku. aku berhasil, ternyata tombak menembus leher sang beruang hingga ke belakang lehernya. sang beruang ambruk. bagai pohon jatuh. menggema di seluruh hutan.

Ria, Shinta, terkulai lemah. sementara Lia jatuh lemas di tanah, aku merangkak ke tubuh Lia.. menepuk pipinya. “lia,! kamu jagan mati!” banguuun, jangan kamu pergi”

Shinta dan Ria merangkak mendekat padaku. “kamu berhasi. ll…?” kata Ria pelan di kupingku.

Lia tersendak “di mana ini.. apa kita di perut beruang?” membuat Kami tertawa

Aku merebahkan tubuhku di samping Lia, beruntung sekali, aku tak menyangka dapat membunuh beruang itu

Cahaya senja mengusik kedua mataku lewat jendela kamar, kepalaku terasa pusing. Saat aku membuka mataku. Aku, Ria, Shinta dan Lia sudah berada di sebuah rumah sakit. kami harus di rawat beberapa bulan karena luka yang kami alami. Kak Ketua datang dan meninju kaki Lia yang patah, sampai ia mau nangis karena kakinya memang di balut karena patah, membuat kami tertawa kencang.

Lya: “aaahh, tolong, toolong, ada manusia yang lebih kejam dari beruang!, semua mata memandang ke arah kami, tertawa begitu lepas, melihat Lia teriak. karena kakinya di tinju kaka Ketua.

Setelah di ceritakan, ternyata kami di tolong tim SAR yang kami kira suku pedalaman, “coba waktu itu mereka menemukan kami, pasti kami tidak perlu di rumah sakit ini” begitulah yang kami tahu dari kaka Ketua.

Cerpen yang berjudul "Teror Beruang" merupakan sebuah cerita pendek karangan dari seorang penulis yang bernama Alfred Pandie. Kamu dapat mengikuti facebook penulis di akun berikut: alfredpandie@yahoo.com.

Posting Komentar untuk "Cerpen Persahabatan - Teror Beruang | Alfred Pandie"