Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Kehidupan - Gadis Renta | Fitri Nur Fadilah

gadis renta

Tak terasa, ternyata sudah satu pekan aku berbaring di tempat tidur ini. Kaku, sakit, ngilu. Ya Tuhan apa sebenarnya yang terjadi padaku? apa ini pertanda? tapi kapan waktunya? cepat jemput aku, aku sudah tak tahan.

Tak ada yang mampu aku perbuat. Selama sepekan ini, aku tak mandi, aku tak makan, aku tak minum, dan aku tak melakukan aktivitas apapun. Tubuhku begitu kaku, dan terasa ngilu jika di paksa untukku gerakan. Bahkan untuk membuang air kecilpun aku sama sekali tak ragu untuk membuangnya di tempat tidur ini. Menjijikan memang, namun apa lagi yang mesti aku lakukan. Tak sadar, aku meneteskan air mata, Ya Tuhan, umurku sudah sangat tak muda, 96 tahun aku rasa itu telah cukup untuk aku dapat pergi dari sini. Aku tak kuat, aku sudah sangat lelah. Rambutku yang putih semakin hari semakin tipis karena rontok, mataku yang sudah tak bercahaya benar-benar membuatku lelah untuk menatap hari-hari yang aku jalani, gigi yang ompong benar-benar sudah terasa ngilu jika aku pakai untuk mengunyah, kerutan pada kulitku, semakin lama benar-benar semakin menyerupai gulungan benang, tubuhku yang semakin terlihat peot dan bungkuk, benar-benar sangat membuatku lemas untuk menjalani hari demi hari. Namun itu bukanlah penyebab utama mengapa aku ingin cepat untuk meninggalkan dunia, karena penyakit hatilah yang sebenarnya menjadi penyebebab utama aku ingin segera pergi dari dunia yang dulu indah ini.

Aku hidup seorang diri. Aku tak memiliki siapapun. Aku tak memiliki suami, aku tak memiliki anak, dan aku tak mungkin untuk memiliki cucu, karena aku tak menikah. Aku masih benar-benar perawan di usiaku yang sudah tak muda ini. Aku memiliki tetangga, bahkan banyak tetangga, namun aku tak memiliki tetangga yang benar-benar baik dan ikhlas padaku. Entahlah, aku sama sekali tak tahu apa yang menyebabkan tetanggaku bersikap begitu buruk pada seorang nenek tua sepertiku. Namun, aku sempat mendengar bahwa mereka tak menyukaiku karena sikapku ketika aku masih muda. Air mataku semakin tak mampu untuk aku bendung, aku menangis dalam kesakitan yang aku rasa. Ya Tuhan, hatiku benar-benar teriris, aku tak menyangka ternyata penyebab mereka terlihat begitu benci padaku adalah karena sikapku dulu. Ya Tuhan, aku tak tahu dengan apa yang harus aku perbuat, aku ingin mereka tahu jika aku telah berubah, aku telah benar-benar menyadari kesalahan yang aku perbuat semasa aku muda dulu. Aku tak menyalahkan mereka, karena aku sangat menyadari sifat dan juga sikapku dulu benar-benar buruk, namun jujur aku benar-benar telah merasakan penderitaan yang mungkin ini adalah balasan dari Tuhan untukku.

Aku benar-benar merasa beruntung karena aku dapat terlahir di kota ini. Kota yang besar, kota yang ramai, kota yang panas, dan kota yang bebas. Bagiku tak ada yang paling membahagiakan selain kebebasan. Aku sangat benci peraturan, aku benci kekangan, dan bagiku sebuah larangan tercipta itu adalah untuk di langgar.

Namaku Feronika, kini umurku menginjak 19 tahun. Aku adalah anak tunggal. Aku terlahir di keluarga yang menurutku membingungkan. Soal agama misalnya, sampai dengan saat ini usiaku 19 tahun aku masih benar-benar bingung dengan agama apa yang sebenarnya aku pegang. Namun, semua ini tak akan mungkin terjadi jika orangtuaku tak membuatku bingung seperti ini. Ayahku, ia mengatakan jika ia adalah pemeluk agama islam, namun aku sama sekali tak pernah melihat ayahku untuk solat, puasa, dan mungkin ayah hanya solat satu tahun sekali itupun karena solat idul fitri. Ibuku, ia mengatakan jika ia adalah pemeluk agama kristen, aku tak tahu pasti ibuku dengan agama yang ia peluk itu, karena sama seperti cerita ayah, aku sama sekali tak pernah melihat ibu untuk pergi beribadah, seperti pergi ke gereja, ataupun yang lainnya. Banyak orang, yang mengusulkanku untuk ikut dengan ayah untuk memeluk agama islam, namun tak sedikit pula yang menyuruhku untuk ikut ibu agar memeluk agama kristen. Aku benar-benar sangat bingung untuk masalah agama, namun, menurutku aku masih begitu muda untuk mengurusi persoalan agama, karena aku takut jika aku sama seperti ayah atau ibuku, yang memiliki agama namun tak sepenuhnya menjalankan apa yang di perintahkan oleh agama yang mereka peluk masing-masing. Aku masih ingin bebas menikmati masa mudaku tanpa harus merasa takut akan dosa.

Di dalam rumah, aku sama sekali tak merasakan kehangatan. Ayah dan ibuku adalah orang tua yang begitu sibuk. Jarang untuk kami bersama. Ayah selalu berada di luar kota. Ibu, ia pulang ketika aku sudah tertidur, dan pergi sebelum aku terbangun. Namun, bagiku inilah yang terbaik, karena jikapun kami memiliki waktu untuk bersama, waktu itu pasti hanya akan di penuhi dengan pertengkaran antara ibu dan ayahku. Aku merasa aku tak memiliki orang tua, karena aku tak mendapatkan kasih sayang, namun sepertinya aku tak butuh kasih sayang, karena yang aku butuhkan hanyalah uang mereka, untuk menunjang pergaulanku.

Aku tak perduli dengan apa yang dikatakan orang yang ada di sekelilingku. Bagiku kehidupanku adalah yang terbaik, apa lagi pergaulanku, bagiku masa muda memang harus seperti ini, bebas, lepas, tak ada aturan. Aku memiliki banyak sekali teman, laki-laki dan perempuan, bagiku tak ada bedanya. Dari sekian banyak teman, aku memiliki 8 orang teman yang telah aku anggap sebagai sahabat. Mereka yang selalu ada untukku ketika suka ataupun duka. Merekalah yang selalu menjadi keluargaku. Tak ada satu rahasiapun yang mereka tak ketahui. Kami selalu bersama, karena kami memiliki pemikiran yang sejalan. Kami merasa, kebebasan adalah segalanya. Kami sama-sama tak menyukai aturan, dan kami sama-sama sepakat jika larangan tercipta adalah untuk di langgar.

Elisa, Angie, Jeje, Viki, Lala, Jacob, Bento, dan Antonio, mereka lah sahabatku. Sahabat yang sejalan denganku.

Malam ini fikiranku benar-benar sedang sangat kacau. Ayah dan ibuku, lagi-lagi mereka bertengkar. Dan kali ini kesalahan ada di pihak ibuku. Ayah mengaku telah melihat ibu dengan seorang laki-laki muda di sebuah pusat perbelanjaan, dan yang membuatku kacau, ibuku sama sekali tak mengelak, ia mengakui bahwa laki-laki muda itu memanglah kekasihnya. Ayahku terlihat begitu marah. Namun, menurutku tak ada yang benar, begitupun dengan ayah. Karena sebelumnya, akupun sempat menangkap basah ayahku sedang pergi dengan teman wanita kantornya.

“malam ini gue mau keluar”

“oke, sini aja, gue lagi di rumah Jeje, tar gue hubungi yang lain”

“oke, gue berangkat sekarang”

Tutt…

Ketika fikiranku kacau, tak ada yang mampu aku lakukan, selain berkumpul dengan mereka. Mereka benar-benar selalu menjadi dinding untukku bersandar. Merekalah sahabat sejati.

Malam ini aku habiskan waktu dengan mereka. Angin malam, asap rokok, canda tawa, dan segala aroma kebebasan merasuk dalam diri dan jiwa kami. Aku tak ingin suasana seperti ini kacau hanya dengan aku membahas masalah orang tuaku. Tak ingin. Semua sahabatku, tahu dengan segala masalah antara aku dan kedua orangtuaku, namun mereka sepertinya tak terlalu mampu memberikanku nasihat yang berarti untukku, karena merekapun memiliki nasib keluarga yang membingungkan, sama sepertiku.

Aku melihat jam di handphoneku, pukul 2 pagi. Dengan tak sadar diri aku mengetuk pintu dengan keras, dan berteriak “bukaaaaa”, awalnya memang tak ada yang membukakan pintu, namun, setelah aku menunggu hampir satu jam, akhirnya pembantu di rumahku mendengar teriakanku dan membukakan pintu untukku. Ini adalah kali empat aku pulang larut malam dan berteriak keras seperti itu. Aku sudah mampu menebak, setelah kejadian malam ini, pasti seluruh tetangga menjadikan semua ini bahan untuk mereka bergosip. Aku sama sekali tak masalah, aku sudah benar-benar tak perduli dengan semua sindiran yang di berikan tetangga pada keluargaku dan khususnya padaku. Begitupun dengan orangtuaku, mereka sempat mengajarkanku agar aku tidak pernah mendengarkan apa yang tetangga katakan. Keluargaku memang tak menjalin hubungan yang harmonis dengan tetangga, karena mereka fikir, untuk apa kita mesti bersikap baik pada mereka, karena itu semua tak ada manfaatnya. Dan, akupun merasa perkataan orangtuaku itu sangatlah benar. Para tetanggaku benar-benar selalu ikut campur dalam setiap urusanku. Mereka selalu berusaha untuk menasihatiku agar aku mampu menjadi lebih baik, padahal aku tahu mereka tak lebih baik dari padaku. Mereka selalu tak suka jika aku harus pulang larut malam, mereka selalu menjadikanku bahan gunjingan yang tak baik, dan mereka selalu membuatku kesal. Aku tak suka dengan tetangga. Aku sempat beberapa kali dengan sengaja membuat mereka sakit hati akan sikap dan perkataanku. Dan itu adalah pada Dimas.

Dimas adalah anak dari salah satu tetanggaku yang sempat membuatku benar-benar kesal. Dimas seumuran denganku. Dan dia mengatakan jika dia mencintaiku. Tuhan memang telah mentakdirkan aku menjadi wanita yang begitu cantik, sehingga banyak sekali laki-laki yang ingin menjadi kekasihku. Aku memiliki banyak kekasih. Dan yang mampu membuatku heran semua kekasihku sama sekali tak pernah marah walaupun mereka tahu aku memiliki banyak kekasih. Begitupun pada Dimas. Dimas adalah laki-laki yang menurutku sangatlah baik, dia benar-benar soleh, dan dia tumbuh di keluarga yang mampu. Namun, dia sama sekali tak memenuhi kreteria jika dia ingin menjadi kekasihku. Awalnya aku benar-benar menerima Dimas dengan begitu baik, dan seolah-olah aku memberikan harapan yang besar untuknya. Namun, sesungguhnya aku hanya menjadikan Dimas sebagai alat untuk membalas dendamku pada orangtuanya yang telah membuatku sakit hati. Aku sempat mendengar jika kedua orangtua Dimas benar-benar tak setuju jika Dimas menjalin hubungan denganku, namun itu benar-benar semakin membuatku lebih bersemangat untuk menjadikan Dimas alat sebagai balas dendam.

Hari ini, aku mengajak Dimas untuk pergi ke tempat yang sering aku kunjungi dengan para sahabatku. Dan sesuai dengan apa yang aku bayangkan, Dimas benar-benar terkejut karena aku mengajaknya masuk ke dunia malam dan membawanya masuk ke sebuah kafe. Kami memang tak melakukan apapun, bahkan aku memberinya minuman yang tak beralkohol, namun aku membawanya pulang benar-benar larut malam, dan sesuai harapanku, kedua orangtua Dimas begitu terlihat marah.

“kau sudah dari mana Dimas?” itu adalah ayah Dimas. Aku yakin ini adalah kali pertama Dimas di bentak oleh ayahnya. Aku tak mengatakan apapun ketika Dimas dan aku di sidang di dalam rumah Dimas, begitupun dengan Dimas, ia benar-benar terlihat begitu ketakutan. Menurutku ini benar-benar berlebihan, hanya karena pulang larut malam, dan masuk kafe saja mesti di sidang seperti ini.

“jawab, kau sudah bawa ke mana anakku?, gadis liar!” kini adalah giliranku yang menerima pertanyaan, dari ayah Dimas. Aku tak lantas menjawab dan hanya menahan emosi, walaupun pertanyaan yang di berikan ayah Dimas benar-benar membuatku kesal.

“mengapa? mengapa kau tak membalas? aku tak salahkan jika aku mengatakan kau adalah gadis liar? gadis liar yang tak terurus! kemana tanggung jawab orang tuamu? setiap hari kau pulang larut, keluar masuk kafe, kau dan orang tua kau sama-sama buruk!” ayah Dimas, benar-benar terlihat begitu membenci keluargaku. “kau bilang aku gadis liar? lalu apa anakmu? laki-laki liar? apa kau tak mampu melihat aku tak pulang larut seorang diri, aku tak masuk dan keluar kafe seorang diri, aku bersama anakmu! Dan jika orang tuaku buruk, tak mengurusku, karena membiarkan aku seperti ini, lalu kau sendiri apa?” Emosiku benar-benar sudah tak terbendung, dan akhirnya beberapa kalimat yang keluar dari mulutku benar-benar membuatku puas untuk membalas dendam.

Kini umurku sudah 35 tahun. Semua sahabatku telah menikah, kecuali aku. Aku tak memiliki siapapun, orangtuaku sudah tak ada, sahabat yang dulu selalu menemaniku kini sudah tak tahu berada di mana. Setiap hari aku hanya berfoya-foya menghabiskan seluruh kekayaan yang ditinggalkan orangtuaku.

Saat ini aku sedang patah hati, aku baru saja mendapat kabar jika kekasihku Doni, akan menikah. Aku benar-benar frustasi. Baru kali ini aku merasa dikhianati, padahal Doni adalah laki-laki yang sangat aku cintai. Setiap malam, aku pergi untuk menenangkan diri. Aku mengunjuni kafe yang dulu selalu aku dan para sahabatku kunjungi. Hingga akhirnya aku berhasil berkenalan dengan seorang pria yang menurutku sesuai dengan kreteriaku. Kami berkenalan, pria itu bernama Lukman, ia seumuran denganku. Semakin lama, hubungan kami semakin dekat. Dan akhirnya, ia mengatakan jika ia mencintaiku. Aku menjalin hubungan kasih dengannya selama 2 tahun. Namun, aku merasa hubungan kami benar-benar tak sehat. Ia selalu meminta uangku. Dan akhirnya aku tahu, jika Lukman selama ini hanyalah memanfaatkanku. Ia tak mencintaiku, namun ia hanya mencintai hartaku.

Harta yang ditinggalkan kedua orangtuaku semakin lama semakin berkurang, dan akhirnya habis tak menyisakan sepeserpun, dan habisnya seluruh hartaku membuat Lukman meninggalkan aku. Aku benar-benar tak mengerti, apa sebenarnya yang membuatku nasibku sepedih ini. padahal dahalu aku adalah gadis cantik yang benar-benar di inginkan semua pria. Semua pria mampu bertekuk lutut, bahkan mereka mampu dengan ikhlas mencintaiku, walaupun aku banyak memiliki kekasih.

Kini aku masuk umur 45 tahun, nasibku benar-benar mengkhawatirkan. Aku masih sendiri dan aku miskin. Setiap hari aku hanya, bekerja sebagai tukang cuci piring di kafe yang dulu selalu aku kunjungi. Dunia benar-benar berputar. Hingga akhirnya, aku bertemu dengan seorang priya berumur 56 tahun. Dia bernama Danu. Dia adalah seorang pengusaha. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, dan dia pun mencintaiku. Akhirnya kami menjalin hubungan. Kami sama-sama mengetahui jika hubungan kami adalah hubungan yang kotor. Karena Danu masih memiliki seorang istri, dan dua orang anak. Namun, aku tak perduli dengan keadaan, yang aku tahu Danu mencintaiku, dan aku mencintai Danu. Kini kehidupanku sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik. Aku tak perlu lagi bekerja sebagai tukang cuci piring di kafe itu. Danu telah menganggapku sebagai wanita yang dicintainya bahkan lebih dari istrinya. Sebenarnya aku mampu membayangkan apa yang di rasakan oleh istri Danu yang terkhianati. Namun, aku tak kuasa jika aku harus melepaskan cinta Danu.

“aku ingin mengajakmu pergi Fero”

“pergi? kemana?”

“besok malam, kita berangkat ke Singapura”

“kamu serius Dan?”

“aku serius, tapi semua ini jangan sampai terdengar istriku”

Aku benar-benar sangat senang dengan ajak Danu. Aku harap di sana Danu akan menjadikanku wanita yang benar-benar mampu menggantikan posisi istrinya itu.

“Danu, terimakasih” aku memeluknya dengan erat. Danu mengecup keningku. Taman yang begitu indah semakin menghiasi pesona cinta kami. Di tengan dinginnya malam, di tengah hangatnya pelukankan, kami sama-sama di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita cantik yang terlihat begitu solehah dengan jilbab yang menutup auratnya datang menghampiri kami. Dengan terkejut Danu melepaskan pelukannya, dan menemui istrinya. Aku tak sempat bertatap muka dengan istri Danu, karena ketika aku akan menghampiri mereka yang sedang terlihat larut dalam percekcokkan, Danu seperti mengisyaratkan agar aku tak mendekati mereka. Aku diam di bangku taman, hingga akhirnya langkah mereka meninggalkanku, tatapan penyesalan Danu benar-benar terpancar dengan sorot lampu taman. Aku menangis. Aku menangis dalam penghianatan.

Air mataku, semakin tak mampu terbendung. Masa lalu benar-benar mampu membuatku semakin merasa berdosa.

“Tuhan, maafkan aku atas segala dosaku di kala ku muda. Keluarga, tetangga, ya Tuhan, maafkan aku. Aku menyesal. Aku merasa, karma telah hadir dalam hidupku. Aku tak menyangka seorang gadis cantik yang menjadi primadona, kini ia di juluki sebagai gadis renta. Aku tak menikah, aku tak memiliki siapapun di akhir hidupku. Tuhan, maafkan aku, karena aku tak dari dulu memeluk dan memujamu, aku malah memeluk dan memuja kebebasan. Tuhan, maafkan aku, aku yakin kau maha pengampun, karena itu aku memohon agar kau mau mencabut nyawaku sekarang juga.” Kaki ku yang kaku, kini bertambah terasa sakit dan ngilu, suhu tubuhku menjadi dingin. Dari telapak kaki, menjulur naik ke tubuhku paling atas, dan ketika sampai tepat di jangtungku. Astagfirullah, aku berteriak, benar-benar sakit. Sakit ini lebih sakit dari pada sakit yang pernah aku alami selama hidup dunia. Mataku buram, dan akhirnya gelap.

Tuhan, inikah waktunya? aku harap ini benar waktunya.

Cerpen yang berjudul "Gadis Renta" ini merupakan sebuah karangan dari seorang penulis dengan nama pena Fitri Nur Fadilah. Kamu dapat mengikuti penulis melalui facebook berikut: fadilahfitri.blogspot.com

Posting Komentar untuk "Cerpen Kehidupan - Gadis Renta | Fitri Nur Fadilah"