Cerpen Cinta - Kamu Putri, Bukan! Aku Indira | Triyana Aidayanthi
Kita tak tau kapan kita pergi dan kapan kita kembali lagi ke dunia ini. Satu hal yang membuat Indira sangat betah di dunia ini, ya… Raja. Cowok yang dikenalnya di rumah sakit dulu. Hanya malaikat pencabut nyawa yang mungkin berada di ruang itu saat itu. Namun mujizat itu nyata. Tuhan memberinya satu kesempatan dan mengirimnya Raja untuknya.
“Kamu kuat, Dira.” Bisiknya saat Indira
mencoba membuka matanya.
“Aku di sini.” Tambahnya.
Burung-burung pun bernyayi, melihat kau
hibur hatiku. Hatiku mekar kembali, terhibur simphony, pasti hidupku kan
bahagia. (Once – Simphony Yang Indah).
“Kamu tahu namaku, kamu seperti dekat
sekali denganku,” kata Indira saat Raja menemaninya jalan-jalan di taman rumah
sakit. Indira tak melihat seseorang sebahagiannya saat itu, di rumah sakit.
Raja menghentikan kursi roda yang didorongnya. Lalu ia duduk di hadapan Indira.
“Pakai ini…” ia menunjuk kepalanya,
“Insting!”
“Bohong besar! Ceritakan mengapa aku bisa
ada di sini?”
“Enggak!!”
Indira terpukau melihat sebuah bangunan
bertingkat 3 yang sangat megah ketika turun dari mobil. Seseorang yang sedang
merapikan kebun menghentikan kegiatannya lalu menghampirinya, berlari
kegirangan.
“Selamat datang kembali di rumah ini,
Non Putri.” Katanya dengan nafas terengah-engah.
Siapa Putri? Tak ada seorang gadis pun
selain aku di sini. Tapi aku Indira. Batinnya.
“Saya Indira, Buk. Mungkin ibu salah
orang.”
“Maafkan saya, Non. Saya baru bekerja di
sini.” Ia lupa dengan keadaan majikannya sekarang.
“Tidak usah bingung, tidak usah risau.
Enjoy saja.” Hibur tukang kebun itu.
Raja menghampiri Indira yang sedang
duduk di sudut taman, melempar batu-batu kecil ke kolam. Membubarkan ikan-ikan
yang sedang memadu kasih.
“Kamu ke mana aja?!”
“Menghilang gak jelas ninggalin aku!”
“Aku tersiksa di sini tanpa tau jati
diriku!”
“Siapa sebenarnya aku?!”
Raja diam mematung mendengar segala
kekesalan Indira terhadapnya.
“Aku minta maaf. Aku pergi untuk urusan
mendadak, Dira.” Jelasnya.
Kubagai biola yang tak berdawai, bila
tidak engkau lengkapi. Aku mohon agar engkau tinggal di sini. (Kangen Band –
Terbang Bersamaku).
Tiba-tiba Indira memeluknya. Melepas
semua air mata itu di bahu Raja.
“Jangan pergi lagi, Rajaku. Biarlah
selamanya aku tak tahu jati diriku, kalau itu mungkin membuat kita terpisah!”
“Aku janji, Dira. Jangan nangis lagi,
ya?”
Mereka menghabiskan waktu di sebuah cafe
es krim favorit Raja. Indira sangat nyaman berada di sana. Meski biasanya
selalu gelisah berada di tempat yang sering dikunjunginya dulu.
Mencari jati diri dengan berlari
mengikuti angin, menyusuri lautan luas, mendaki gunung hingga ke puncak.
“Aku bisa menjadi yang terbaik untukmu,
Randy!” teriak Putri.
“Aku bisa lebih dari dia!”
“Put, udah deh. Lo terlalu terobsesi
sama Randy si playboy itu.” Vina coba menasehati sahabatnya yang tengah di
mabuk asmara Randy. Tangannya yang memegang kartu undangan pertunangan Randy,
ia selipkan di sofa.
“Masih pacaran sama lo aja dia berani
selingkuh sama Hel..”
“STOP!!” Putri menatap Vina tajam.
“Oke. Terserah lo sekarang. Gue gak mau
ikut andil dalam hal konyol ini lagi!” Vina keluar dari kamar Putri.
Meninggalkan kartu undangan yang masih terselip di sofa.
“Mau kemana, Vin?” Putri mengikuti
langkah Vina menuju lantai bawah.
“Pulang. Dan tolong jangan cari gue
lagi!!” teriaknya.
Putri membiarkan mobil jazz Vina menjauh
dari halaman rumahnya. Ia menghela nafas panjang untuk perbuatannya tadi
terhadap Vina.
“Vin, maafin gue..” ucapnya lirih seraya
berjalan menuju kamarnya. Jujur. Putri sangat lelah menghadapi masalah yang
sedang dihadapinya. Ia lelah harus selalu berdebat dengan Vina. Lebih lelah
lagi berjuang mendapatkan cinta Randy, sang pujaan hati.
“Tapi aku nggak bisa lupain kamu, Ran!
Aku terlalu mencintaimu!!” cairan bening membasahi pipinya. Untuk kesekian
kalinya ia menangisi yang sebenarnya tak pantas untuk ditangisi. Namun
beginilah mereka yang sedang dimabuk cinta!
Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu?
Cukup indahkan dirimu untuk slalu kunantikan? (Sheila On 7 – Seberapa Pantas).
“Non Putri!!” teriak pengasuhnya saat
sedang membersihkan kamar Putri. Ia sangat terkejut melihat sebuah benda yang
ia temukan. Putri yang sedang sarapan segera berlarian ke atas menghampirinya.
“Ada apa, Bik?”
Ia menyerahkan apa yang ia temukan itu.
Sama seperti dirinya. Putri juga terkejut. Hatinya hancur berkeping-keping
melihat nama sang pujaan hati tertera di kartu undangan itu, dengan orang yang
sangat dibencinya. Helda.
“Arrgghhh!!!” Putri melempar kartu itu
lalu menginjak-nginjaknya. Ia berlari menghampiri mobilnya yang terparkir di
depan gerbang. Mobil jazz merah metalik itu melaju kencang ke arah selatan.
Menuju rumah Vina. Kemarahan Putri tidak dapat di bendung lagi. Mobilnya melaju
kencang di tengah jalan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan datang sebuah
mobil yang baru keluar dari sebuah showroom, membuat Putri terkejut dan
terpaksa membanting stir mobilnya.
“Aaaaaaaa!” teriaknya keras saat
mobilnya menabrak pembatas jalan. Ia nekad membuka pintu mobil lalu melompat
keluar. Berhasil! Ia terguling di semak-semak. Namun mobilnya melesat ke jurang
“Aww..” Putri merasa kepalanya membentur
sesuatu. Pusing. Matanya kunang-kunang. Lalu seketika semua gelap gulita.
Mobil yang ditabraknya itu hampir saja
menabrak sebuah pohon yang tak jauh dari pembatas jalan. Pemilik mobil itu
keluar lalu terkapar di tanah. Warga sekitar lalu mengkerumuni TKP. Kemudian
mobil polisi dan ambulan berdatangan.
“Hel.. tunggu!!” teriak seorang
laki-laki yang keluar dari mobil. Mengejar seorang perempuan.
“Kamu memang laki-laki brengsek,
Randy!!”
“Sayang maafin aku!” pintanya dengan
tampang memelas.
Perempuan itu menghela nafas….
PLAK!! Sebuah tamparan manis mendarat di
pipi kanan Randy.
“Sayang, kamu….”
PLAK!! Sebuah tamparan lagi mendarat di
pipi kiri laki-laki yang sama.
“Kita putus!!” perempuan itu melepas
cincin di jari manis kanannya lalu melemparnya ke wajah Randy. Ia lalu
meninggalkannya tapi sebelumnya mendaratkan hak sepatunya di kaki Randy. Randy
mengerang kesakitan lahir batin melihat Helda menaiki sebuah mobil mewah
bersama seorang laki-laki di dalamnya. Kasian.
Ribuan hari aku menunggumu, jutaan lagu
tercipta untukmu.. (Sheila On 7 – Itu Aku).
Raja menyematkan sebuah cincin emas
putih betahtakan sebuah berlian indah di jari manis Dira. Semua undangan yang
hadir turut merasakan kebahagian mereka berdua. Indira dan Raja resmi
bertunangan.
“Selamat ya untuk kalian..”
“Aku gak sabar liat kalian di altar
nanti..!!”
Malam itu, seusai acara, Raja mengajak
Dira menuju suatu tempat yang pasti akan sangat disukai oleh Dira. Mereka
berjalan menyusuri dinginnya angin malam, melewati kerumunan jiwa yang tengah
asyik menikmati suasana di taman kota.
“Raja… beliin aku jagung bakar, ya?”
pintanya.
“Tapi kamu jangan pergi dari sini, ya?”
“Iya, sayang!”
Raja meninggalkan Dira yang duduk di
sebuah bangku dekat kolam air mancur di taman itu. Hanya tinggal satu pedagang
jagung bakar yang masih berjualan malam itu. Membuat Raja harus mengantri
dengan para jiwa lainnya.
“Putri..?” sapa seorang laki-laki. Dira
menatapnya lekat-lekat, ternyata itu Randy. Seolah tidak kenal. Dira
mengabaikannya begitu saja.
“Kau lupa denganku?” tanya Randy. Dira
menghela nafas panjang…
“Tentu.” Jawabnya mantap. “Untuk apa aku
mengingat masa laluku yang kelam dengan orang tak berperasaan sepertimu.”
Sambungnya.
“Apa maksudmu?” tanyanya lagi.
PLAK!! Dira mendaratkan tamparan dengan
sangat bersemangat di pipi kanan laki-laki itu. Lalu Dira berdiri dan
meninggalkannya.
“Putri.. aku masih mencintaimu!!”
teriakan Randy membuat perhatian jiwa-jiwa yang masih berada di tempat itu
tertuju padanya. Tak terkecuali seorang pemuda tampan yang tengah membawa
jagung bakar, Raja.
“Kau pasti salah orang!” balas Dira.
Raja menghampiri Dira yang tengah menahan-nahan air matanya.
“Jangan berpura-pura kamu, Putri!!”
teriaknya lagi sambil tertawa. Persis orang gila.
“Bukan!! Aku Indira!” balas Dira. Dan
cairan bening itu membasahi pipinya lagi. Namun berbeda, kali ini air matanya
bukan tertuju untuk masa lalunya, melainkan dengan masa depannya, Raja.
“Kamu memang tak mendapatkan apa yang
kamu cari, kamu menemukan apa yang kamu butuhkan..” ucap Raja pelan seraya
memeluk Indira di hadapan seribu mata, yang membuat iri para jiwa yang
menyaksikannya.
Dan diriku bukanlah aku, tanpa kamu tuk
memelukku. Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku… (NOAH – Tak Lagi Sama).
Cerpen yang berjudul "Kamu Putri, Bukan! Aku Indira" merupakan sebuah cerita pendek karangan dari seorang penulis yang bernama Triyana Aidayanthi. Kamu dapat mengikuti facebook penulis di akun berikut: Triyana Aidayanthi.
Posting Komentar untuk "Cerpen Cinta - Kamu Putri, Bukan! Aku Indira | Triyana Aidayanthi"