Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Cinta - Gadis Cantik Berkerudung Merah | Himma Anshori

gadis cantik kerudung merah
Gadis cantik berkerudung merah - Himma Anshori

Aku terbangun dari mimpi ku yang jauh melambung tinggi. Pandangan ku menuju keluar jendela. Kulihat dedaunan dan halaman rumah ku masih basah terkena air sisa hujan semalam. Matahari pun sudah terlihat terang di atas sana. Sepertinya mentertawakan diriku, karena aku terlambat bangun. Kulangkahkan kaki ku menuju ke kamar mandi yang letaknya jauh di bawah sana. Namun, ku dapati antrian yang sangat banyak. Ada nenek ku, kakak perempuanku, keponakanku dan adik ku. Aku tinggal di sebuah rumah yang lumayan besar. Namun, hanya ada satu kamar mandi sedangkan keluarga ku sangat banyak.

Aku sendiri Rio. Cowok manis yang sering di bilang black sweet. Meskipun aku hitam tapi aku manis. Aku juga sering di bilang jones alias jomblo ngenes. Karena sampai sekarang, di umurku yang ke 27 tahun, aku tak kunjung punya pacar. Tak di rumah tak di tempat kerja. Aku sering di perolok oleh teman-temanku. Namun, aku tak peduli, karena pasti Tuhan punya rahasia di balik semua ini.

“nek… siapa yang ada di kamar mandi?”

“itu adik kamu sama keponakan kamu, lagi di mandiin sama mbak mu.”

“pasti lama deh, nenek nanti aja deh ya, Rio buru-buru mau kerja ini nek.”

“nggak bisa, nenek juga buru-buru.”

“mbak… cepetan dong, Rio kesiangan bangun, terus Rio buru-buru ini, cepetan.”

“iya, ini sudah selesai.” Mbak Ratna pun keluar dari kamar mandi “maka nya cepetan punya pacar, dan langsung di nikahi, biar ada yang bangunin tiap pagi.”

“ye… kok jadi ke urusan pacar-pacar segala sih mbak”

Aku pun segera masuk ke kamar mandi dan mendahului nenek ku. Nenek ku pun marah-marah sembari mengetuk-ketuk pintu kamar mandi dengan tongkatnya namun, aku tak memperdulikan hal itu. Aku tetap saja mandi dengan sesegera mungkin. Seusai mandi, aku pun ikut sarapan dengan orang-orang di rumah. Aku mendengar ibu ku sedang membicarakan tentang tetanggaku dulu sewaktu aku masih tinggal di daerah desa karang batu dekat laut.

“eh… tadi ibu dapat kabar dari tetangga kita yang dulu di desa karang batu loh na.”

“kabar apa bu?”

“anaknya yang sulung itu meninggal 1 bulan yang lalu.”

“innalillaahi wa inna ilaihi roji’un, yang cantik itu ya bu?”

“iya, katanya kecelakaan begitu na, pas mau turun dari bus, kasihan ya.”

“siapa bu yang meninggal?” sahut ku dari dalam kamar.

“itu loh anak tetangga kita waktu di karang batu, yang dulu suka sama kamu itu loh io, yang nangis-nangis waktu kamu mau pindah ke jakarta.”

“oh ya… andai saja dia belum meninggal, pasti Rio cari bu’, terus Rio jadiin pacar, dia kan cantik ya bu.”

“hus… kamu itu, pamali ngomongin orang yang sudah meninggal.”

Setelah sarapan aku segera berlari keluar untuk menunggu bus yang siap mengantarkanku ke kantor. Di dalam bis itu aku bersyukur mendapatkan tempat duduk yang nyaman, namun tiba-tiba aku melihat seorang perempuan memakai kerudung merah, wajahnya sangat manis, apalagi dengan kerudungnya itu, Ia terlihat sholehah. Namun, ia sedang berdiri di sampingku. Ia sepertinya tak mendapat tempat duduk.

“maaf mbak… mbak duduk aja, biar saya yang berdiri.” Perempuan itu hanya tersenyum sepertinya menolak niat baik ku itu. “nggak apa-apa mbak, saya juga sebentar lagi sudah turun.”

Aku pun berdiri dan perempuan itu duduk di tempat yang ku berikan ke dia. Aku memperhatikan perempuan tersebut. Ia sangat manis dan cantik, aku suka perempuan seperti ia. Ia melihatku juga, membuatku malu melihatnya. Dan kulihat-lihat pula aku saja yang berdiri. Tak apa lah, yang penting gadis manis yang berkerudug merah itu tidak berdiri. Tak lama kemudian bus itu sampai juga di depan kantorku.

“nggak capek bang, berdiri terus?” Tanya sang kondektur bus itu.

“nggak kok, demi gadis cantik di belakang itu bang.”

“gadis cantik? Mana bang?”

“itu…” Ternyata gadis itu pun juga sudah turun.

Aku pun segera turun dari bus. Sesampainya di kantor pasti nya aku mendapat omelan dari kepala HRD. Apalagi kepala HRD di kantor ku adalah seorang cewek, pasti cerewetnya minta ampun. Telinga terasa panas mendengar omelan dari kepala HRD tersebut. Dan aku kembali ke meja kerja ku. Semua temanku mengerumpuli ku.

“lu udah 5 kali ini telat loh io.”

“iya io, emang nggak ada yang bangunin lu apa?”

“dia kan udah gede, masak iya perlu di bangunin segala, seharusnya dia itu punya pacar atau istri biar ada yang bangunin tiap pagi.”

“betul itu io.”

“huuuust… udah ah, lu semua pada berisik aja, gue mau kerja.”

Di olok-olok lagi sama mereka. Bosen sih, tapi mau bagaimana lagi kenyataan nya aku memang Jones. Tapi semenjak bertemu dengan gadis berkerudung merah itu, aku merasakan ada Sesutu dalam hatiku, apa aku mulai menyukai dia. Dan aku makin sering bertemu dengannya di bus dan pasti ia turun juga di tempat yang sama denganku. Apa dia juga menyukai ku. Suatu hari aku mengikuti ia yang saat itu turun bersamaan dengan ku. Saat ia sedang berjalan tiba-tiba ia berhenti dan menoleh ke arahku yang sedari tadi mengikutinya.

“maaf… saya ikuti kamu.” Ia tersenyum padaku.

“aku Gadis, kamu siapa ya?” ia memperkenalkan dirinya dan menanyakan namaku.

“sa… saya Rio mbak.” Gadis melihatku dengan senyumnya yang manis itu.

Dan ia pun kembali berjalan dan berjalan menuju ke gang kecil. Aku yang sadar harus bekerja segera berlari kembali ke kantor. Perkenalan yang singkat itu sangat membuatku terkesan. Akan aku ingat selalu perkenalan tersebut. Kini setiap aku naik bus dan bertepatan bersama nya pasti aku mengajak nya berbincang-bincang. Ia juga tipe perempuan yang asyik di ajak bicara, meskipun ia tak bicara banyak. Namun, saat aku melihat senyumnya ketika bicara membuat ku sangat terpesona.

“oh ya… kamu itu sering makan gula ya?” Tanya ku pada gadis.

“nggak ah, kenapa memang?”

“habisnya kamu manis banget, kayak gula, seneng deh lihat kamu senyum begitu. Pokoknya kamu harus senyum begitu terus ya, biar manis terus.”

Gadis tersenyum lagi. Membuat hatiku begitu tentram dan damai di sampingnya.

Malam itu entah kenapa aku selalu teringat dengan senyum manis si kerudung merah tersebut. Aku memikirkan sesuatu tentangnya, sudah 2 minggu ini aku bertemu dan mengenalnya, andai aku meminta nya untuk menjadi pacarku, apakah tidak terlalu cepat.

“hei… kamu kenapa io?” Tanya mbak ku yang sedang menidurkan keponakanku.

“Rio lagi bingung mbak, Rio itu kenal cewek baru 2 minggu, Rio nggak mau kehilangan dia, tapi kalau Rio nembak dia sekarang, pasti dia mikir terlalu cepat mbak, kalau menurut mbak bagaimana?”

“ya itu sih tergantung kamu lah. Kalau kamu sayang sama dia, ya di tembak aja, asalkan kamu membuktikan keseriusan kamu itu.”

“terimakasih ya mbak, kalau begitu besok Rio akan nembak dia.”

Aku berangkat pagi-pagi benar, agar aku bisa berbincang dengan nya di dekat-dekat kantor. Namun, hari ini aku tak menemui nya naik bus tersebut. Apa mungkin hari ini ia tak naik bus ini, dan naik bus lainnya. Namun, aku melihat seorang perempuan memakai kerudung merah tersebut yang juga lewat di gang sempit tersebut. Aku mengikuti perempuan tersebut.

“gadis…” aku memanggilnya. Perempuan itu berhenti dan menoleh ke arahku.

Namun apa yang aku dapati, perempuan itu bukan gadis. Ia hanya perempuan yang sama-sama berkerudung merah. Perempuan sepertinya tertegun saat aku memanggilnya gadis. Aku pun meminta maaf kepadanya.

“maaf mbak, saya salah orang.”

“kamu kenal gadis?”

“iya mbak, apa mbak kenal gadis juga?”

“nggak, saya nggak kenal.”

Kemudian perempuan yang mungkin seumuran dengan gadis tersebut pergi begitu saja. Dan aku pun kembali ke kantor. Konsentrasi ku pecah memikirkan keberadaan Gadis. Yang menghilang begitu saja. Aku sudah 3 hari tak menemui nya naik bus yang sama denganku. Dan aku tak lagi ingin naik bus itu. Kini aku memilih naik taxi. Msekipun bayarnya lebih mahal, karena dengan naik bus tersebut itu membuat ku selalu ingat dengan Gadis. Suatu hari ketika aku menunggu taxi, aku melihat seorang perempuan berkerudung merah di dekat bus biasanya. Ia terlihat tersenyum padaku kemudian naik ke dalam bus tersebut. Aku sangat kenal senyum itu, itu adalah senyum dari Gadis. Aku pun berlari menuju bus dan masuk ke dalam bus. Namun, tak ku dapati Gadis di dalam. Dan tak ada satu pun penumpang yang berkerudung merah sepertinya. Lalu siapa yang masuk dalam bus tadi. Aku pun duduk di bangku belakang tempat yang biasa ku duduki bersamanya.

“eh mas yang kemarin.” Aku tak menghiraukannya. “mas udah 4 hari ini nggak kelihatan naik bus ini, biasanya kalau ada mas disini, para penumpang saya terhibur loh.”

“maksud nya abang apa? Saya itu lagi galau bang, jangan bikin saya makin galau deh.”

“mas kan biasa nya bicara sendirian, terus ketawa-ketawa sendirian, nyanyi-nyanyi sendiri, penumpang saya suka kalau mas nyanyi, suara nya enak banget.”

“bang… jangan bikin saya makin galau, maksud abang itu apa?” aku makin kesal dengan ocehan bang kondektur yang tak bisa di fahami itu.

“maaf mas, kalau saya bikin mas kesal.”

“iya, iya aku maafin, oh ya bang, saya mau tanya.”

“tanya apa mas?”

“cewek yang pakai kerudung merah itu, sekarang jarang ya naik bus ini?”

“cewek berkerudung merah? Siapa ya mas?”

“yang itu bang, yang biasanya duduk di belakang sama saya? Tahu kan bang?”

“maksudnya bagaimana sih mas, saya kok makin nggak faham.”

“begini bang, abang pasti kenal kan sama langganan abang yang sering pakai kerudung merah dan duduk nya di belakang sini, namanya Gadis.”

“Gadis?”

Kondektur itu terlihat kaget dan menurunkan saya segera dari bus nya. Ada apa sebenarnya ini? Saat di turunkan dari bus, aku melihat perempuan yang pernah ku lihat kemarin. Aku mengikutinya yang menuju ke sebuah pemakaman. Ia duduk di sebuah gundukan makam yang tanahnya masih tinggi, sepertinya itu kuburan baru. Aku merasakan ada yang mengganjal dengan nya saat aku memanggilnya dengan sebutan Gadis. Pasti Gadis ada hubungan dengannya. Aku pun berfikiran untuk mencari tahu besok tentang Gadis kepada abang kondektur serta perempuan ini. Karena aku tak mungkin menunggu perempuan ini keluar dari makam. Hari sudah mulai malam, aku hampir tak bisa tidur memikirkan hal yang aneh ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku. Sesekali aku memejamkan mata, namun, aku terbangun lagi saat terbayang-bayang senyum dari Gadis. Pagi tak terasa telah tiba, aku segera mandi dan menuju ke tenpat bus berkumpul untuk narik memcari penumpang. Aku temui abang kondektur yang kemarin menurunkan aku secara paksa dari bus.

“bang…” kondektur itu seperti menghindar. “tolong jelasin ke saya dong bang, kenapa abang kemarin sepertinya nggak suka saya menyebut nama Gadis.”

“untuk apa saya jelaskan itu?”

“saya mencintai dia bang, saya kehilangan jejak nya bang, padahal saya ingin melamarnya.”

“kamu sudah benar-benar gila mas.”

“gila? saya nggak gila bang.”

“Gadis itu sudah meninggal mas, mas itu jangan mengada-ada, dia sudah meninggal 1 bulan yang lalu.”

“pasti abang bohong, nggak mungkin dia meninggal, dia nyata bang. Abang yang mengada-ada.”

“kalau mas tidak percaya, datang saja ke rumah dia.”

Aku telah mendapat alamat rumahnya. Mendengar penjelasan dari bang kondektur tersebut, aku sungguh tak percaya. Sesampainya di rumah tersebut aku mendapati seorang laki-laki paruh baya yang tak asing bagiku. Ia adalah tetangga ku waktu dulu, di desa karang batu. Fikiranku carut-marut, apa mungkin anak beliau yang meninggal ataukah siapa.

“pak Karim…?”

“iya nak, anak ini siapa ya?”

“ini saya pak, Rio anak nya ibu Rohmah.”

“subhanallah, kamu sudah sebesar ini, mari mari duduk nak.” Aku pun duduk, dan pak Karim memanggil anaknya. “ndok… tolong diambilkan minum, ini ada tamu.”

Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan manis berkerudung, dan ternyata dia adalah perempuan yang aku temui dan aku ikuti kemarin. Dia sempat kaget melihatku. Aku pun melihat ke sekeliling ruangan. Aku melihat foto keluarga, dimana ada 2 anak gadis beserta ibu dan ayahnya. Dan itu adalah keluarga kecil pak Karim. Aku memulai pembicaraan dengan pak Karim.

“ehm… bu de siti ada di rumah kan pak.”

“ada, tapi lagi di pasar.”

“lalu, dua gadis kecil pak Karim ada juga, pasti mereka sudah besar ya pak?” pak Karim menampakkan wajah sedihnya.

“tadi kamu lihat sendiri kan? Itu tadi cantik. Anak bapak paling Bungsu.”

“lalu? Anak bapak yang sulung dulu?”

“dia…?” pak Karim menitihkan air mata. “dia sudah meninggal 1 bulan yang lalu.”

“apakah dia Gadis pak?” pak Karim menganggukkan kepala.

Aku tak kuasa menahan air mata, aku menangis. Ternyata perempuan yang aku kagumi adalah sebuah bayangan semata. Gadis memang telah meninggal 1 bulan yang lalu, karena kecelakaan, ia terjatuh dari bis dan ia terlindas bus tersebut. Setelah lama kita berdua saling bercerita tentang semua nya yang sedang terjadi. Aku pun pulang. Aku pun berjalan dengan perasaan yang masih tak percaya. Tiba-tiba ada suara memanggil namaku.

“mas Rio…!”

“cantik…? maaf saya sudah membuat keluargamu mengingat dan bersedih karena membahas Gadis lagi.”

“nggak apa-apa kok mas, sekian lama mbak gadis menunggu mas Rio, akhirnya mas Rio mengingatnya dan bertemu dengannya, meskipun hanya bayangan, saya sih nggak percaya mas, tapi itu memang terjadi, ini barang yang selalu di simpan mbak Gadis, selama mas Rio pindah ke Jakarta.” Cantik memberikan sebuah gantungan kelinci.

“ini kan, gantungan kunci tasku, yang aku berikan kepada Gadis.”

“iya mas, Dia senang sekali bisa bertemu mas meskipun lewat bayangan saja.”

“kok kamu tahu?”

“semalem mbak Gadis datang di mimpi ku, dan dia tersenyum bahagia mas.”

Setelah menerima gantungan itu, aku pun pulang dan memilih untuk libur kerja hari ini, karena badanku agak tidak enak. Aku merasa menyesal, kenapa sejak dulu aku tak menerima cintanya, tapi saat itu aku masih sangat kecil. Hampir 3 hari aku tidak masuk kerja karena aku masih sakit. Aku juga tak lupa memberi tahu ibu ku, kalau pak Karim sekeluarga sudah pindah ke Jakarta. Dan aku juga bercerita tentang hal mistis yang aku alami. Meskipun tak ada yang percaya, aku tetap percaya dan akan mengenng pengalaman mistis yang indah ini. Setelah 3 hari sakit, ibuku pun mengadakan acara syukuran. Tak lupa ibu dan ayah mengundang keluarga pak Karim. Aku melihat ada Cantik juga datang dengan baju merah dan kerudung merah, ia amat cantik. Kenapa aku tiba-tiba memujinya. Ah… apa aku juga menyukainya. Senyumnya pun tak kalah manis dengan senyum Gadis.

“Cantik… aduh, makin hari makin cantik saja ya kamu.” Puji ibu ku pada Cantik.

“iya, bu… cantik ya.” Puji ku juga, Cantik tersipu malu.

“kenapa nggak di jodohin aja itu bu sama Rio.”

Aku dan Cantik tersipu malu. Muka kita merah. Semerah baju Cantik. Pengalaman mistis yang tak pernah ku duga sungguh menakjubkan dan mengherankan. Aku bertemu dengan GADIS. Yang membuat ku hampir gila karena di tinggalkannya, dan ternyata dia hanyalah bayangan. Dan kini aku telah menjalin kasih dengan CANTIK. GADIS CANTIK BERKERUDUNG MERAH, mereka berdua telah membuat ku jadi gila karena cinta nya.

NB: ungkapkanlah rasa sayangmu mulai sekarang, selagi kita bisa, sebelum kau tak bisa mengungkapkannya dan merasa menyesal.

Cerpen yang berjudul "Gadis Cantik Berkerudung Merah" ini merupakan sebuah karangan dari seorang penulis bernama Himma Anshori. Kamu dapat mengikuti facebook penulis di Himma Anshorie.

Posting Komentar untuk "Cerpen Cinta - Gadis Cantik Berkerudung Merah | Himma Anshori"